Dua Belas Hari Menyelami Budaya Tiongkok, Chinese Culture Camp 2025 Ditutup Penuh Sukacita
Selama 12 hari penuh, suasana ceria mewarnai Sekolah Xin Zhong, Pakuwon City Campus. Sebanyak 319 pelajar dari 11 sekolah di Surabaya dan sekitarnya larut dalam pengalaman tak terlupakan melalui Chinese Culture Camp 2025.
Kegiatan yang mengusung tema “Mengenal Budaya Tionghoa, Membangun Jembatan Persahabatan” ini resmi ditutup pada Jumat, 12 September 2025, dengan perayaan meriah yang dipenuhi senyum, tawa, dan rasa haru.
Penutupan acara dibuka dengan parade para siswa yang menampilkan hasil belajar mereka dari berbagai kelas, mulai dari Wushu, Shufa (kaligrafi), kerajinan tangan, puisi, musik tradisional, hingga tarian khas Tiongkok. Suasana hangat semakin terasa saat para orang tua, guru, hingga tokoh-tokoh hadir memberikan dukungan.
Ketua Perhimpunan Sekolah Nasional Tiga Bahasa se-Indonesia, Yudi Sutanto, menyampaikan apresiasi mendalam.
“Selamat dan sukses atas terselenggaranya Chinese Culture Camp 2025 di Sekolah Xin Zhong. Terima kasih kepada para guru dari Tianjin yang luar biasa. Selama 12 hari, anak-anak mendapat pengalaman budaya yang begitu kaya,” ucapnya.
Yudi menekankan bahwa kegiatan interaktif ini bukan hanya menambah pengetahuan, tetapi juga memberi pengalaman nyata yang berkesan.
“Saya berharap para siswa terus semangat belajar bahasa Mandarin dan budaya Tiongkok, tetap berpikiran terbuka, percaya diri pada budayanya sendiri, dan kelak bisa menjadi jembatan persahabatan Indonesia–Tiongkok,” tambahnya.
Senada dengan itu, Liauw Lindratini, Ketua Yayasan Alumni Xin Zhong, menegaskan pentingnya momen ini. “Tahun ini bertepatan dengan 75 tahun hubungan diplomatik Indonesia–Tiongkok. Chinese Culture Camp menjadi bukti persahabatan kedua bangsa terus tumbuh dengan indah,” tuturnya.
Perwakilan Sekolah Xin Zhong, Peng Zexiang, menyampaikan rasa syukur. “Dalam dua belas hari ini, kita bersama-sama menikmati perjalanan penuh keindahan budaya dan pencerahan. Dari seni bela diri, musik gendang, opera, kaligrafi, hingga tarian dan resitasi. Semua membuat para peserta seakan menyelami samudra budaya Tiongkok yang menakjubkan,” katanya dengan penuh semangat.
Sementara itu, Feng Yuan Yuan, Direktur Eksekutif Asosiasi Persahabatan Luar Negeri Tianjin, mengaku terharu melihat antusiasme peserta.
“Camp Budaya Tionghoa 2025 di Surabaya berhasil dilaksanakan berkat dukungan semua pihak. Semoga benih budaya Tionghoa yang ditanam di hati para siswa dapat tumbuh subur, membuat mereka mencintai budaya, sekaligus menjadi duta persahabatan bagi kedua bangsa,” ujarnya.
Kebahagiaan juga terpancar dari wajah para siswa. Salah satunya Nathanael Chandra, perwakilan peserta, yang dengan tulus membagikan pengalamannya.
“Saya sangat senang ikut kegiatan ini. Bisa belajar kaligrafi, drama musik tradisional, gunting kertas, sampai wushu. Semua kelas berbeda dari biasanya dan sangat menarik. Terima kasih kepada guru-guru dari Tianjin,” ungkapnya penuh antusias.
Acara ditutup dengan pemberian piagam penghargaan kepada para peserta berprestasi, disusul pertunjukan yang menampilkan bakat anak-anak—mulai dari menyanyi, main musik, opera, wushu, hingga tarian. Gelak tawa, tepuk tangan meriah, dan kebersamaan terasa menyatukan semua yang hadir.
Dan ketika seluruh peserta, guru, dan tamu undangan berkumpul untuk berfoto bersama, kebahagiaan itu seakan menjadi simbol eratnya persahabatan—sebuah kenangan yang akan terus hidup di hati para siswa dan menjadi pijakan untuk masa depan yang penuh harapan. (Red)

