Lewat Kaligrafi, Jony Yuwono Bangkitkan Kembali Aksara Jawa
Kekhawatiran akan semakin berkurangnya masyarakat yang mampu membaca dan menulis aksara Jawa mendorong Jony Yuwono, seniman dari Indonesia Calligraphy and Painting Institute, untuk menghidupkan kembali warisan budaya tersebut melalui seni kaligrafi.
Menurut Jony Yuwono, aksara Nusantara seperti Jawa, Sunda, Bali, hingga Batak sejatinya memiliki nilai sejarah dan filosofi yang tinggi. Namun, saat ini aksara-aksara tersebut semakin jarang digunakan. “Banyak orang bisa berbicara dalam bahasa daerahnya, tapi belum tentu bisa membaca dan menulis aksaranya. Kalau kondisi ini dibiarkan, bukan tidak mungkin aksara kita bernasib seperti hieroglif Mesir—hanya berupa simbol yang tidak lagi dipahami maknanya,” ujar Jony (30/8/25).
Inspirasi itu muncul ketika ia melihat bagaimana Jepang dan Tiongkok bangga menampilkan aksara mereka di ruang publik, misalnya dalam bentuk pepatah yang terpampang di restoran atau tempat umum. “Kita juga punya aksara yang kaya makna. Bayangkan betapa indahnya jika pepatah leluhur dituliskan dalam aksara Jawa atau aksara tradisional lain melalui kaligrafi,” tambahnya.
Untuk mewujudkan gagasan itu, Jony menggabungkan seni kaligrafi dengan aksara Jawa dalam karya-karyanya. Ia bahkan mempraktikkannya secara langsung di hadapan puluhan hadirin dalam acara Pameran Kaligrafi, Seni Lukis, dan Fotografi bertema 【山高水长,休戚与共】(shān gāo shuǐ cháng, xiū qī yǔ gòng: Setinggi-tingginya Gunung, Sepanjang-panjangnya Sungai, Suka dan Duka Dilewati Bersama).
Pameran spektakuler tersebut digelar pada 30 Agustus – 1 September 2025 di Sekolah Tiga Bahasa Khay Ming, Citra Raya Citraland, Surabaya. Acara ini sekaligus memperingati 75 tahun hubungan diplomatik Indonesia–Tiongkok, 70 tahun Konferensi Asia-Afrika Bandung, serta 620 tahun pelayaran pertama Laksamana Cheng Ho ke Barat.
Kegiatan ini terselenggara berkat kerja sama berbagai pihak, antara lain Kedutaan Besar Republik Rakyat Tiongkok di Indonesia, Confucius Institute Universitas Negeri Surabaya, Perkumpulan Seni Lukis & Kaligrafi Shufa Jawa Timur, Sekolah Tiga Bahasa Khay Ming, Yayasan Haji Muhammad Cheng Hoo Indonesia, Paguyuban Masyarakat Tionghoa Surabaya, Confucius Institute Universitas Al Azhar Indonesia, serta Indonesia Calligraphy and Painting Institute.
Dengan langkah ini, Jony Yuwono berharap kaligrafi bisa menjadi jalan untuk menghadirkan aksara tradisional Nusantara lebih dekat dengan masyarakat modern. “Menghidupkan kembali aksara sama saja menjaga budaya kita agar tidak hilang ditelan zaman,” pungkasnya. (Red)

