Pendidikan

Pawukon Jewelry, Inovasi Perhiasan Berbasis Budaya Lokal Karya Mahasiswa ITS

Berita7.online – Mahasiswa Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS), Bhirawa Kusuma Wijaya, menghadirkan inovasi perhiasan melalui Pawukon Jewelry Collection, yang memadukan teknik material modern dengan nilai astrologi Jawa kuno (wuku).

Berawal dari tugas kuliah di Departemen Desain Produk Industri (Despro) ITS, Bhirawa mengembangkan karya berbasis metode material-driven design, dengan mengeksplorasi teknik oksidasi untuk menghasilkan efek blue patina pada tembaga. Ia mengangkat konsep Pawukon—sistem penanggalan Jawa dan Bali—sebagai identitas budaya lokal yang masih jarang diadaptasi dalam desain perhiasan modern.

Koleksi ini terinspirasi dari Wuku Watugunung, yang merepresentasikan karakter dan perjalanan hidup melalui tiga elemen utama: Lakuning Rembulan (karakter dinamis dan membawa kebahagiaan), bunga Wijaya Kusuma (simbol pertumbuhan), serta Sang Hyang Antaboga (naga sebagai lambang semangat inovasi).

Ketiga elemen tersebut diwujudkan dalam bentuk detail perhiasan, seperti kepala naga berlapis emas 18 karat, mutiara air tawar, serta dancing stone dengan berlian moissanite yang menciptakan efek gerak dinamis. Teknik ammonia fuming digunakan untuk menghasilkan warna khas tembaga melalui proses oksidasi terkontrol.

Menurut Bhirawa, patina yang umumnya dianggap sebagai cacat material justru dimanfaatkan sebagai nilai estetika utama. Proses pengembangan karya ini berlangsung selama satu semester, meliputi riset material, pembuatan prototipe, hingga produksi handmade.

Ke depan, ia berharap Pawukon Jewelry dapat dikembangkan menjadi produk komersial sekaligus memperkenalkan budaya lokal ke pasar yang lebih luas. Inovasi ini juga sejalan dengan komitmen ITS dalam mendukung SDGs, khususnya pada aspek industri kreatif, inovasi, dan pelestarian budaya.