Komunitas

Budaya Imlek sebagai Perekat Keberagaman Dibahas di TVRI dari Kelenteng Sam Poo Sing Bio Surabaya

Nilai-nilai kebersamaan dan keberagaman dalam perayaan Tahun Baru Imlek kembali diangkat melalui program televisi nasional. Sejumlah tokoh Tionghoa hadir dalam syuting bersama TVRI yang digelar di Kelenteng Sam Poo Sing Bio (Mbah Ratu), Surabaya, Rabu (11/2/2026) pagi.

Syuting yang dimulai tepat pukul 09.00 WIB tersebut menghadirkan Chandra Wurianto Woo, Budhi Tanuwijaya, Hartadi Tanuwijaya, Bingtomo Halim, serta Tjokro Pontjoharyo untuk membahas makna dan tradisi Imlek yang telah berakulturasi dengan budaya Indonesia.

Chandra Wurianto Woo yang menjabat sebagai Ketua Yayasan Senopati sekaligus Ketua Perkumpulan Sosial KSHK (Kong Siau Hwee Kwan 泗水廣肇會館), menjelaskan bahwa perayaan Imlek di Indonesia merupakan hasil perpaduan budaya Tionghoa dengan kearifan lokal.

“Tradisi Imlek di Indonesia ditandai dengan dekorasi merah, berbagi angpao, makan malam bersama keluarga, hingga atraksi barongsai. Semua itu menjadi simbol sukacita, rasa syukur, dan harapan baik,” ujarnya.

Ia menambahkan, rangkaian tradisi Imlek dimulai dari membersihkan rumah sebelum pergantian tahun, sembahyang kepada leluhur, mengenakan pakaian bernuansa merah, hingga ditutup dengan perayaan Cap Go Meh yang meriah.

Menariknya, Chandra juga menyoroti tradisi khas yang berkembang di Surabaya, yakni kepedulian sosial para pengusaha Tionghoa yang membagikan angpao kepada warga Tionghoa pra sejahtera.

“Ada yang menarik di momen Tahun Baru Imlek di Surabaya, di mana para pengusaha membagikan angpao kepada warga Tionghoa pra sejahtera. Hal ini sangat positif dan menjadi perekat persatuan,” jelasnya.

Sementara itu, Pakar dari Sentra Pendidikan Yijing Senopati Surabaya yang diketuai Laoshi Bingtomo Halim menyampaikan harapannya di Tahun Kuda Api. Menurutnya, shio Kuda Api melambangkan kebebasan, gairah, semangat, dan kekuatan. “Semoga di tahun Kuda Api ini bangsa Indonesia terhindar dari musibah dan masyarakat semakin sejahtera,” tuturnya.

Dalam kesempatan tersebut, Tjokro Pontjoharyo menjelaskan makna kehadiran barongsai yang hampir selalu mewarnai perayaan Imlek. Menurutnya, barongsai dipercaya membawa hoki dan kemakmuran, serta mampu mengusir hal-hal negatif melalui suara tabuhan drum dan gong yang keras. Para penari barongsai pun kerap menerima angpao sebagai simbol keberuntungan bagi pemberinya.

Ketua Yayasan TITD Sam Poo Sing Bio, Hartadi Tanuwijaya, memimpin sembahyang bersama para pengurus, sebagai ungkapan doa dan harapan agar Tahun Baru Imlek Kuda Api membawa keberkahan bagi semua serta selalu mengingat kepada leluhur.

Syuting bersama TVRI ini menjadi agenda rutin yang hampir setiap tahun dilakukan, menghadirkan tokoh-tokoh Tionghoa untuk menjelaskan budaya Imlek di Indonesia sebagai bagian dari kekayaan budaya nasional yang menjunjung tinggi nilai toleransi dan persatuan. (Red)