Webech Mantarson dan Kerinduan pada Cahaya Rembulan
Pameran lukisan bertajuk Dejavu yang berlangsung di Galeri Merah Putih, Balai Pemuda Surabaya, 3–7 Agustus 2025, menjadi ajang pertemuan para perupa dari Surabaya dan Sidoarjo untuk berbagi karya dan cerita. Di antara deretan lukisan yang dipajang, Techno of Spiritual karya Webech Mantarson menyita perhatian dengan tema yang tak biasa—kerinduan pada rembulan.
Dengan medium akrilik di atas kanvas berukuran 60×90 cm, Webech menggambarkan refleksi spiritual yang kini tergeser oleh kemajuan teknologi. Lewat sapuan warna dan simbol yang dalam, ia menyampaikan pesan tentang rembulan yang perlahan-lahan terlupakan dalam kehidupan manusia modern.
“Dulu, cahaya rembulan jadi teman setia di malam hari. Kita duduk di teras, memandangi langit sambil berbincang atau merenung. Bahkan saat listrik padam, bulan tetap hadir menemani,” kenangnya lirih. “Sekarang, orang lebih sibuk menatap layar. Kita kehilangan keintiman dengan alam.”
Webech tak sekadar melukis, tapi menuturkan kisah tentang perubahan zaman dan hilangnya kedekatan manusia dengan alam semesta. Lewat karyanya, ia ingin mengajak kita sejenak berhenti—meletakkan gawai, dan kembali menengadah pada langit yang dulu begitu akrab.
Baginya, seni bukan hanya soal keindahan visual, tapi juga jembatan yang menghubungkan kembali manusia dengan nurani dan alam. Pameran Dejavu menjadi ruang untuk itu: menyentuh, menggugah, dan mengingatkan. (Red)

