TITD Yayasan Sam Poo Sing Bio Surabaya Peringati 620 Tahun Kedatangan Kongco Sam Poo Tay Djien
TITD Yayasan Sam Poo Sing Bio atau Klenteng Mbah Ratu, yang berada di Jl. Demak no. 380 Surabaya, menggelar peringatan penting: 620 tahun kedatangan Yang Mulia Kongco Sam Poo Tay Djien ke Nusantara. Kegiatan yang diselenggarakan pada 23–24 Juli 2025 berlangsung khidmat dan penuh semangat kebersamaan.
Rangkaian acara dibuka dengan pertunjukan barongsai yang meriah, dilanjutkan doa bersama yang dipimpin oleh Ketua TITD Sam Poo Sing Bio, Hartadi Tanuwijaya bersama pengurus.
Doa diikuti oleh umat, serta tamu undangan dari berbagai kelenteng di seluruh penjuru Jawa Timur, di antaranya; Surabaya, Krian, Pasuruan, Mojokerto, Jombang, Gudho, Trowulan, Rogojampi, Pamekasan, Jember, Madiun Nganjuk, Malang, Bojonegoro, Kediri dan Semarang Jawa Tengah. Mereka hadir untuk bersatu dalam penghormatan dan mengenang jejak sang pelaut agung yang membawa pesan damai lintas samudra.
Peringatan tahunan ini tak hanya menjadi momen spiritual, tetapi juga ruang untuk memperkuat tali budaya dan persaudaraan antarumat serta pengurus TITD di tanah air.
Dalam sambutannya, Hartadi Tanuwijaya menyampaikan terima kasih kepada seluruh umat, donatur, dan tamu yang hadir. “Dalam peringatan ini kami mengundang pengurus TITD se-Jawa Timur. Semoga acara ini berjalan lancar dan sukses. Semoga umat mendapatkan berkah, diberikan panjang umur, kesehatan, dan hidup yang bahagia,” ungkapnya, (23/7/25).
Acara kemudian dilanjutkan dengan makan malam bersama, menyajikan hidangan khas Nusantara dan Chinese Food. Suasana hangat penuh kekeluargaan juga tampak dalam sesi foto bersama para pengurus dan perwakilan TITD yang hadir.
Sebagai penutup rangkaian, pada Kamis malam (24/7/2025), digelar pertunjukan wayang kulit yang menjadi simbol harmonisasi nilai-nilai budaya Tionghoa dan Jawa—warisan leluhur yang terus hidup di tengah perkembangan zaman.
Keberadaan Klenteng Sam Poo Sing Bio di tengah masyarakat Surabaya mendapat apresiasi luas karena peran sosial dan budayanya yang begitu kuat. Hartadi Tanuwijaya selaku ketua umum dan para pengurus klenteng menunjukkan kepedulian yang tinggi, tak hanya rutin membagikan sembako bagi warga kurang mampu, tetapi juga aktif melestarikan seni budaya lokal seperti pagelaran wayang kulit.
Klenteng yang akrab dijuluki “Klenteng Mbah Ratu” ini pun menjadi tempat yang hangat bagi wisatawan dan pemerhati budaya, untuk belajar tentang toleransi antarumat beragama dan kekayaan budaya Tionghoa yang terus hidup hingga kini. (Red)

