MONOCHROME: Ketika Hitam Putih Menjadi Bahasa Seni
Pameran seni rupa bertajuk “MONOCHROME” yang digagas Komunitas Seni Rupa Garis Gathuk resmi digelar di Galeri Prabangkara, UPT Taman Budaya Jawa Timur, pada 15–20 Mei 2026. Pameran ini menghadirkan 62 seniman dari berbagai kota, yakni Surabaya, Lamongan, Gresik, Sidoarjo, Malang, Madura, hingga Jogja, dalam sebuah eksplorasi artistik yang menempatkan hitam-putih sebagai bahasa visual utama.
Pembukaan pameran dilaksanakan pada Jumat, 15 Mei 2026 pukul 16.00 WIB dan dibuka oleh Made Agus Sumantra. Mengusung tajuk Garis Gathuk Art Project, pameran ini menjadi bagian dari peringatan Bulan Indonesia Menggambar Nasional.
Ketua komunitas, Budi Bi, menyampaikan bahwa Komunitas Seni Rupa Garis Gathuk lahir dari semangat merangkai berbagai perbedaan dalam satu harmoni kreatif. Beragam karakter dan gaya berkesenian—mulai dari abstrak hingga dekoratif—dipertemukan dalam satu garis yang saling terhubung dan selaras.
Menurutnya, tema monochrome dipilih sebagai bentuk perayaan terhadap bulan Indonesia Menggambar Nasional sekaligus ajakan bagi penikmat seni untuk melihat lebih dalam makna visual di balik keterbatasan warna. “Melalui warna yang tampak sedikit, sesungguhnya tersimpan jutaan warna visual dan rasa,” ungkapnya.
Sementara itu, seniman senior Surabaya, Rasmono Sudarjo, menjelaskan bahwa penggunaan monochrome dalam seni lukis bukan sekadar persoalan estetika, melainkan pilihan artistik yang memiliki kekuatan tersendiri.
Menurut Rasmono, warna memang mampu membuat subjek terlihat lebih realistis, hidup, serta menghadirkan emosi dan ekspresi yang kuat. Namun di sisi lain, warna juga dapat menjadi distraksi apabila tidak relevan dengan subjek utama yang ingin disampaikan seniman.
Dalam pendekatan monochrome, gangguan tersebut dihilangkan sehingga perhatian penikmat karya lebih terfokus pada bentuk, tekstur, garis, dan komposisi. Nuansa hitam-putih juga dinilai mampu menghadirkan suasana yang lebih dramatis, misterius, sekaligus menegaskan kontras antara terang dan gelap secara lebih mendalam.
Ia menambahkan, penggunaan satu warna atau monochrome sering kali memberi kesan klasik, vintage, dan retro yang khas dalam karya seni. Meski demikian, pilihan antara monochrome maupun warna penuh tetap bergantung pada visi artistik masing-masing seniman serta pesan yang ingin disampaikan melalui karya mereka.
Melalui pameran “MONOCHROME”, Komunitas Seni Rupa Garis Gathuk menghadirkan ruang apresiasi yang tidak hanya menampilkan karya visual, tetapi juga mengajak publik memahami bahwa kesederhanaan warna dapat melahirkan kedalaman makna yang luas dalam dunia seni rupa. (Red)

