Disbud DKI Hadirkan Pergelaran Seni Budaya Betawi di HBKB Dukuh Atas, Warga Antusias Nikmati Ondel-Ondel
Dinas Kebudayaan Provinsi DKI Jakarta kembali menghadirkan Pergelaran Seni dan Budaya Reguler untuk Masyarakat pada Minggu pagi (25/1) di kawasan Hari Bebas Kendaraan Bermotor (HBKB), tepatnya di Spot Budaya Dukuh Atas, Jalan Jenderal Sudirman, Jakarta Pusat.
Kegiatan ini merupakan bagian dari komitmen Pemerintah Provinsi DKI Jakarta untuk menghadirkan seni dan budaya secara langsung di ruang publik yang mudah diakses oleh masyarakat. Melalui pergelaran ini, warga dapat menikmati hiburan budaya di tengah aktivitas olahraga dan rekreasi di kawasan HBKB.
Pada edisi kali ini, Dinas Kebudayaan Provinsi DKI Jakarta berkolaborasi dengan Sanggar Silibet, menampilkan beragam kesenian tradisional Betawi yang berhasil menarik perhatian pengunjung. Kehadiran seni tradisi di ruang publik menjadikan pusat kota Jakarta sebagai panggung budaya yang terbuka, inklusif, dan dinamis.
Salah satu penampilan utama adalah ondel-ondel Betawi yang disajikan secara atraktif dan penuh energi. Pertunjukan ini tidak hanya menjadi hiburan visual, tetapi juga menghadirkan pengalaman budaya yang segar bagi masyarakat perkotaan, sekaligus memperkenalkan kembali ikon budaya khas Jakarta kepada generasi muda.
Selain itu, Tari Tradisional Betawi turut memeriahkan suasana. Setiap gerakan tarian sarat akan filosofi kehidupan masyarakat Betawi yang diwariskan secara turun-temurun, mencerminkan nilai kebersamaan, keceriaan, serta kearifan lokal sebagai bagian dari identitas budaya ibu kota.
Tidak hanya menyuguhkan pertunjukan, acara ini juga menghadirkan Workshop Pembuatan Miniatur Ondel-Ondel yang terbuka untuk masyarakat umum. Kegiatan ini mendapat sambutan antusias, khususnya dari anak-anak, karena mengajak peserta berkreasi secara langsung sambil mengenal seni tradisi dengan cara yang edukatif dan menyenangkan.
Melalui kegiatan ini, Dinas Kebudayaan Provinsi DKI Jakarta berharap dapat terus menumbuhkan kecintaan masyarakat terhadap seni dan budaya Betawi, sekaligus memperkuat peran ruang publik sebagai wadah interaksi budaya yang hidup.

