Komunitas

Rasmono Sudarjo Apresiasi Pameran Move Art, Ruang Ekspresi 52 Pelukis Jawa Timur

Pameran lukisan bertajuk Move Art yang digelar Komunitas Gerakan Perupa Antar Kota (Geprak) Jawa Timur menjadi ruang temu dan ekspresi bagi puluhan seniman rupa di Jawa Timur. Pameran ini berlangsung di Galeri Prabangkara, Kompleks Taman Budaya Jawa Timur, Surabaya, dan terbuka untuk umum mulai 3 hingga 10 Januari 2026.

Sebanyak 60 karya lukisan dari 52 pelukis dipamerkan, menampilkan beragam aliran seni rupa, mulai dari realis, naturalis, dekoratif, impresionis, hingga abstrak. Keberagaman gaya tersebut mencerminkan kebebasan berekspresi sekaligus dinamika perkembangan seni rupa di Jawa Timur.

Para perupa yang terlibat berasal dari berbagai daerah, seperti Surabaya, Gresik, Lumajang, Jember, Bondowoso, Mojokerto, Jombang, dan Tuban. Bahkan, sejumlah seniman dari luar provinsi, termasuk Tangerang, turut ambil bagian, menandakan terbukanya ruang kolaborasi lintas daerah dalam wadah Geprak Jatim.

Ketua Seni Budaya Nusantara, Rasmono Sudarjo, yang hadir langsung di pameran tersebut, memberikan apresiasi tinggi terhadap semangat para pelukis. Menurutnya, konsistensi dalam berkarya dan menjaga kreativitas merupakan kunci utama dalam dunia seni.

“Para pelukis ini tetap eksis dan terus berkarya. Yang terpenting dalam seni adalah kreativitas. Selama jiwa kreatif terus dibina, karya pasti berkembang dan karier seniman akan maju,” ujar Rasmono Sudarjo, Kamis (8/1/2026).

Sieny Utami pengusaha sekaligus tokoh pendidikan di Jawa Timur menilai karya-karya yang dipamerkan memiliki kekuatan visual sekaligus pesan budaya yang kuat.

“Komposisi warna dan makna yang disampaikan sangat menarik. Saya melihat ada karya yang mengangkat budaya Bali. Ini bukan hanya seni, tapi juga bisa mengedukasi masyarakat tentang budaya dan pariwisata Indonesia,” tutur pimpinan Harian Qiandao.

Antusiasme pengunjung juga datang dari kalangan muda. Faradila, mahasiswi Universitas Islam Negeri Sunan Ampel (UINSA) Surabaya, mengaku tertarik pada karya pelukis Bugy berjudul Penantian. Lukisan berukuran 100 x 100 cm dengan media cat akrilik tersebut menampilkan sosok perempuan dengan jam tangan berlatar kupu-kupu.

“Karyanya terasa dekat dengan keseharian perempuan. Seolah pelukisnya benar-benar memahami sosok yang digambarkan,” ujar Faradila yang datang bersama teman-temannya.

Sementara itu, Ketua Komunitas Geprak Jawa Timur, Muit Arsa, menjelaskan bahwa tema Move Art dipilih sebagai simbol ajakan agar para seniman terus bergerak, berproses, dan tidak berhenti berkarya di tengah perubahan zaman.

“Tema ini kami angkat untuk memotivasi para perupa agar terus berkarya. Harapannya, seni rupa di Jawa Timur semakin bergairah, progresif, dan mampu berkembang mengikuti dinamika zaman,” jelas Muit Arsa.

Selain pameran lukisan, panitia juga menggelar diskusi seni terbuka untuk publik. Kegiatan ini diharapkan menjadi ruang pertukaran gagasan, pengalaman kreatif, sekaligus memperkuat jejaring dan solidaritas antar seniman lintas daerah.

Pameran Move Art tidak hanya menjadi ajang apresiasi seni rupa, tetapi juga medium refleksi dan dialog tentang peran seniman dalam menjaga denyut kebudayaan serta memperkuat ekosistem seni di Jawa Timur. (Red)