Melanjutkan Tradisi Kuliner Semarang, Loenpia Pak Edy Pertahankan Racikan Leluhur
Berbicara tentang kuliner Semarang, lumpia selalu menjadi ikon yang tak terpisahkan dari identitas kota ini. Jajanan khas tersebut dikenal dengan kulitnya yang renyah, berisi rebung, telur, dan ayam, berpadu cita rasa manis-gurih dengan tekstur rebung yang segar dan menggoyang lidah.
Salah satu lumpia legendaris yang kerap menjadi pilihan wisatawan adalah Loenpia Pak Edy—menggunakan ejaan asli loenpia. Berlokasi di Jl. Brigjen Katamso No. 20, Semarang Timur, tempat ini menawarkan beragam pilihan, mulai dari lumpia goreng matang, lumpia basah, hingga lumpia versi frozen yang praktis dijadikan oleh-oleh.
Keunikan Loenpia Pak Edy tidak hanya terletak pada rasanya, tetapi juga pada kemasannya yang ramah lingkungan. Lumpia dikemas menggunakan besek bambu, menambah kesan tradisional sekaligus memperkuat nilai kearifan lokal. Yang paling penting, Loenpia Pak Edy tetap setia mempertahankan resep leluhur yang diwariskan secara turun-temurun.
Komposisi rasa yang dihadirkan pun tidak berubah sejak dulu. Tanpa bahan pengawet dan hanya menggunakan bahan-bahan berkualitas, Loenpia Pak Edy menjaga standar mutu yang konsisten. Tak heran jika satu buah lumpia dibanderol Rp19.000, harga yang sebanding dengan kualitas serta keaslian rasa yang ditawarkan.
Dengan cita rasa yang terjaga, pelanggan Loenpia Pak Edy datang dari berbagai daerah di Indonesia, mulai dari Jakarta, Bandung, Jawa Timur, Jawa Tengah, Bali, Lampung, hingga Kalimantan.
Dosen dan Pengamat Pariwisata Universitas Airlangga, Dr. Sri Endah Nurhidayati, S.Sos., M.Si., menyebut lumpia memiliki nilai budaya yang kuat.
“Lumpia Semarang merupakan hasil akulturasi budaya Jawa dan Tionghoa, sehingga memiliki cita rasa yang unik—perpaduan legit dan gurih yang kaya. Lumpia juga telah diakui sebagai Warisan Budaya Takbenda Indonesia sejak 2014, sehingga wajar jika menjadi oleh-oleh wajib bagi wisatawan,” ujarnya.
Seiring waktu, Lumpia Semarang tidak hanya berkembang di wilayah asalnya, tetapi juga menyebar ke berbagai daerah di Indonesia dan diterima oleh berbagai lapisan masyarakat. Variasi isian pun semakin beragam, mulai dari ayam, udang, hingga daging. Bahkan, di daerah yang sulit mendapatkan rebung, isian lumpia kerap dimodifikasi dengan sayuran lain seperti taoge.
Kaya Nilai dan Filosofi
Lebih dari sekadar makanan, lumpia merupakan ikon budaya Kota Semarang. Dalam setiap gigitannya tersimpan cerita tentang tradisi, inovasi, dan kebanggaan masyarakat. Secara sosial dan budaya, lumpia menjadi simbol akulturasi Jawa dan Tionghoa yang hingga kini tetap hidup dan relevan.
Lumpia hadir dalam berbagai momen, mulai dari acara keluarga, festival budaya, hingga menjadi buah tangan wajib wisatawan. Satu gulungan lumpia mampu menyatukan orang dari berbagai latar belakang untuk menikmati rasa yang sama dalam suasana kebersamaan.
Di balik kesederhanaannya, lumpia juga menyimpan filosofi mendalam. Kulit tipis yang membungkus isi rebung, ayam, atau udang menjadi metafora tentang perbedaan yang dapat bersatu. Rasa manis khas Jawa dan gurih ala Tionghoa berpadu harmonis, menciptakan keseimbangan cita rasa yang khas.
Jejak Sejarah Lumpia Semarang
Lumpia Semarang berakar dari percampuran budaya Tionghoa dan Jawa sejak abad ke-19. Kuliner ini bermula dari seorang pedagang Tionghoa asal Fujian bernama Tjoa Thay Joe, yang menjajakan makanan berisi daging babi dan rebung dalam balutan kulit tipis.
Dalam perjalanannya, Tjoa Thay Joe menikah dengan perempuan Jawa bernama Wasih. Dari perpaduan budaya tersebut lahirlah resep lumpia khas yang disesuaikan dengan selera lokal, menggunakan rebung manis, daging ayam, udang, dan telur. Lumpia ini kemudian dijual di kawasan Olympia Park, dan resepnya diwariskan secara turun-temurun. Salah satu kerabatnya, Pak Edy, turut mempopulerkan lumpia hingga dikenal luas sebagai ikon kuliner Semarang.
Secara etimologis, kata lumpia atau lunpia berasal dari dialek Hokkian. Kata “lun” atau “lum” berarti lembut, sedangkan “pia” berarti kue. Meski makanan serupa dapat ditemukan di negara lain seperti Tiongkok, Vietnam, dan Filipina, Lumpia Semarang memiliki kekhasan tersendiri melalui penggunaan rebung serta perpaduan rasa manis dan gurih yang khas.
Menikmati Lumpia Semarang bukan sekadar soal kuliner, melainkan juga merayakan sejarah, filosofi kebersamaan, dan identitas sebuah kota—cerita panjang yang dibungkus rapi dalam kulit tipis yang renyah.

