Komunitas

Konjen RRT Ye Su Tinggalkan Kesan Lewat Kaligrafi Shufa di Hwie Tiauw Ka Surabaya

Perkumpulan Hwie Tiauw Ka Surabaya di Jalan Slompretan No. 58 menyambut kunjungan tamu kehormatan pada Senin, 8 Desember 2025. Ketua Li Weiling, Wakil Ketua Guo Xianrong, Ketua Kehormatan Huang Fenpeng, Penasihat Kehormatan Huang Deming dan Gu Xuesheng, Wakil Pembina Qiu Siyu, serta sekitar 15 pengurus lainnya hadir lengkap untuk menerima Konsul Jenderal Republik Rakyat Tiongkok (RRT) di Surabaya, Bapak Ye Su.

Menjelang pukul tiga sore, hujan rintik-rintik menyambut kedatangan rombongan, seolah menguatkan pepatah lama, “kehadiran orang terhormat membawa angin dan hujan.” Konsul Jenderal Ye Su hadir bersama Kepala Bidang Konsuler, Luo Jingying, serta Konselor Bidang Pendidikan dan Kebudayaan, Yan Jiaming. Setiba di Gedung Hwie Tiauw Ka yang telah berusia 205 tahun, rombongan meninjau arsitektur bangunan, dekorasi ruang, serta nama-nama leluhur yang terpahat di dinding, sebuah jejak sejarah panjang komunitas Tionghoa di Surabaya.

Dalam kesempatan itu, Ketua Li Weiling dan Ketua Kehormatan Huang Fenpeng memaparkan sejarah dan perkembangan perkumpulan, termasuk kontribusi Hwie Tiauw Ka dalam melestarikan budaya Tionghoa serta menjalin hubungan persahabatan Tiongkok–Indonesia. Konsul Jenderal Ye Su menyampaikan kekagumannya terhadap kekayaan sejarah yang terjaga di gedung tersebut. Suasana pertemuan semakin hangat saat para pengurus menjamu tamu kehormatan dengan teh dan hidangan tradisional Hakka berupa bakwan goreng khas keluarga Hakka.

Konsul Jenderal Ye Su menegaskan bahwa kunjungannya ke komunitas Tionghoa pada hari itu diawali dari Perkumpulan Hwie Tiauw Ka Surabaya. Ia mengapresiasi peran penting perkumpulan ini sepanjang lebih dari dua abad dalam memajukan persahabatan Indonesia–Tiongkok. Beliau juga menyampaikan terima kasih atas berbagai bentuk dukungan yang pernah diberikan kepada negara Tiongkok, termasuk sumbangan sebesar 60.000 yuan pada masa pandemi COVID-19—kontribusi yang menurutnya tidak akan dilupakan.

Salah satu momen paling mengesankan terjadi ketika Konsul Jenderal Ye Su menundukkan badan memberi penghormatan di depan altar leluhur. Tindakan tersebut mencerminkan nilai luhur bangsa Tionghoa dalam menghormati asal-usul, sekaligus menjadi teladan bagi generasi penerus.

Momen puncak kunjungan terjadi ketika Konjen Ye Su menunjukkan keahliannya dalam seni kaligrafi Tiongkok (shufa). Beliau menulis secara spontan sebuah kaligrafi bertuliskan: “Perhimpunan Dua Ratus Tahun, Tanah Leluhur Tujuh Ribu Li.” Karya tersebut memiliki goresan tegas dan kuat, mengandung harapan agar Perkumpulan Hwie Tiauw Ka terus berkembang tanpa melupakan akar budaya dan sejarah.

Meski pertemuan berlangsung singkat, kesan yang ditinggalkan sangat mendalam bagi seluruh pengurus.

Sebagai ungkapan penghargaan, Ketua Li Weiling menyerahkan cenderamata kepada Konsul Jenderal, dilanjutkan sesi foto bersama. Kunjungan ditutup dalam suasana penuh kehangatan dan persaudaraan.

Perkumpulan Hwie Tiauw Ka Surabaya menyampaikan terima kasih yang tulus atas kunjungan tersebut. “Kehadiran beliau tidak hanya menjadi kehormatan bagi gedung perhimpunan, tetapi juga memperkuat keyakinan kami untuk terus melestarikan kebudayaan dan tradisi luhur bangsa Tionghoa, tidak melupakan asal-usul dan jasa para leluhur. Semoga Bapak Ye Su selalu diberkahi kesehatan dan sukses dalam menjalankan tugas,” ujar Ketua Li Weiling. (Red)