Tokoh Nasional Hadiri Peringatan Hari Santri 2025 di Nganjuk, Raffi Ahmad Ajak Santri Melek Digital
Suasana khidmat sekaligus penuh semangat menyelimuti Pondok Pesantren Al-Mardliyah Mojosari, Kabupaten Nganjuk, saat ribuan santri dan masyarakat mengikuti peringatan Hari Santri Nasional 2025, Kamis (23/10).
Sejumlah tokoh nasional hadir dalam acara tersebut, di antaranya Menteri Kelautan dan Perikanan RI Sakti Wahyu Trenggono, Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak RI Arifatul Choiri Fauzi, serta Utusan Khusus Presiden RI Raffi Farid Ahmad. Turut hadir Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa, Bupati Nganjuk Kang Marhaen, Wakil Bupati Mas Handy, jajaran Forkopimda, dan para pengasuh pondok pesantren se-Kabupaten Nganjuk.
Dalam sambutannya, Bupati Nganjuk Kang Marhaen menegaskan bahwa pendidikan karakter dan keagamaan adalah pondasi utama dalam membangun daerah.
“Pembangunan daerah dimulai dari membangun karakter. Para santri harus turun ke masyarakat, menyebarkan ilmu dan akhlak yang baik,” ujar Kang Marhaen disambut tepuk tangan para hadirin.
Sementara itu, Menteri PPPA Arifatul Choiri Fauzi menyampaikan apresiasi atas kiprah Pondok Pesantren Al-Mardliyah yang telah berdiri selama lebih dari tiga dekade dan membina lebih dari 5.000 santri.
“Pesantren adalah pusat peradaban ilmu. Mari terus lanjutkan perjuangan para kiai, ulama, dan syuhada yang telah menanamkan nilai-nilai luhur bangsa,” pesannya.
Menteri KKP Sakti Wahyu Trenggono turut menyoroti pentingnya menjaga kelestarian laut sebagai sumber kehidupan. Ia bahkan berjanji untuk mengirimkan satu ton ikan setiap bulan bagi pondok pesantren di Nganjuk.
“Santri juga harus paham bahwa menjaga laut berarti menjaga masa depan. Laut kita bukan hanya sumber ekonomi, tapi juga sumber keberkahan,” ujarnya.
Kehadiran Utusan Khusus Presiden, Raffi Ahmad, menjadi sorotan tersendiri. Di hadapan ribuan santri, Raffi mengajak generasi muda pesantren untuk tidak hanya kuat dalam ilmu agama, tetapi juga adaptif terhadap kemajuan teknologi.
“Doa itu nomor satu. Tapi santri juga harus melek digital, mengikuti perkembangan zaman tanpa meninggalkan akhlak dan karakter,” ujar Raffi yang disambut sorak antusias para santri.
Acara ditutup dengan momen hangat khas pesantren, yaitu makan bersama di atas nampan besar, simbol kesederhanaan dan kebersamaan antara para santri dan pejabat.
Peringatan Hari Santri Nasional di Nganjuk tahun ini bukan sekadar seremoni, melainkan menjadi manifestasi nyata semangat kolaborasi antara ulama, umara, dan umat dalam membangun peradaban bangsa berbasis keilmuan, karakter, dan kebersamaan.

