Unair Gagas Edu-Agrowisata Kambing di Carangwulung, Wonosalam: Sinergi Peternakan dan Pariwisata Berbasis Masyarakat
Jombang – Sektor peternakan menjadi salah satu andalan perekonomian Kabupaten Jombang. Data tahun 2023 mencatat populasi kambing di wilayah ini mencapai 29.250 ekor, dengan Kecamatan Wonosalam sebagai salah satu sentra utamanya. Namun, meskipun hampir setiap rumah di Desa Carangwulung memiliki kandang kambing, potensi ini belum dimanfaatkan sebagai daya tarik wisata.
“Selama ini peternakan kambing hanya dikembangkan untuk penggemukan, produksi susu, atau penjualan anakan. Padahal, ternak kambing juga memiliki potensi besar sebagai atraksi wisata edukatif,” ujar Dr. Sri Endah Nurhidayati, S.Sos., M.Si., dosen Program Studi D4 Destinasi Pariwisata, Fakultas Vokasi Universitas Airlangga.
Guna menjembatani potensi ini, Unair menggelar program Pengabdian kepada Masyarakat (PkM) di Desa Carangwulung bekerja sama dengan Anjasmoro Valley—sebuah inisiatif lokal yang tengah mengembangkan villa dan konsep pariwisata berbasis masyarakat.
“Masyarakat di sini belum terbayang bagaimana peternakan kambing bisa jadi tempat wisata. Padahal, hampir semua rumah punya kambing. Sayang jika peluang ini tidak dikembangkan,” ungkap Dwi Septyan, pengelola Anjasmoro Valley.
Sebagai langkah awal, tim Unair mengadakan pelatihan untuk membuka wawasan masyarakat tentang konsep edu-agrowisata, yakni integrasi antara edukasi, pertanian atau peternakan, dan pariwisata. Materi pelatihan mencakup potensi aktivitas wisata dari peternakan kambing, mulai dari edukasi beternak, pengolahan produk susu, hingga peluang wisata kuliner dan kesehatan.
“Desa Carangwulung bisa dikembangkan menjadi kawasan wisata kuliner berbasis kambing. Selain susu kambing bisa dijadikan alternatif STMJ, potensi wellness tourism juga terbuka luas—misalnya spa, yoga, atau terapi susu kambing yang diyakini bermanfaat bagi penderita asma atau untuk kecantikan,” tambah Dr. Sri Endah.
Untuk memperkuat identitas dan menarik minat pengunjung, pelatihan juga mencakup strategi branding dan promosi digital melalui media sosial. “Masyarakat diajarkan mengenali karakter berbagai platform media sosial serta membuat konten tematik yang menarik dan informatif. Media sosial kini menjadi rujukan utama bagi wisatawan dalam memilih destinasi,” jelas Mochamad Reiza Al Ariyah, S.Sos., M.Sosio., narasumber dari D4 Destinasi Pariwisata Unair.
Sementara itu, Dr. Yuniawan Heru Santoso, M.Si., menekankan pentingnya kolaborasi lintas sektor dalam pengembangan destinasi wisata berbasis peternakan. “Kemitraan strategis dengan pelaku industri pariwisata, seperti travel agent dan asosiasi profesi, akan memperluas akses pasar. Selain itu, pelatihan dan sertifikasi profesi penting untuk meningkatkan kualitas SDM lokal. Melalui kerja sama ini pula, masyarakat bisa mengakses dana CSR atau pembinaan dari pemerintah maupun swasta,” tegasnya.
Kegiatan ini dimoderatori oleh Upik Eka Noviyanti, S.Ant., M.A., dari Prodi D4 Destinasi Pariwisata Unair. Diharapkan, melalui pelatihan ini masyarakat semakin termotivasi untuk menggali dan mengembangkan potensi lokal demi peningkatan kesejahteraan bersama. Red

