News

Mozaik Budaya di Kembang Jepun: Tiga Tokoh Surabaya Angkat Harmoni dalam Keberagaman

Surabaya, 4 Juni 2025 — RRI Pro 1 Surabaya 99.2 FM kembali menghadirkan perbincangan inspiratif dalam program Mozaik Indonesia: Pelestarian Budaya dan Pariwisata, yang kali ini mengangkat kekayaan budaya Surabaya melalui sesi bincang santai bersama tiga tokoh seni dan budaya.

Hadir sebagai narasumber, Rasmono Sudarjo—fotografer, pelukis, dan pendiri Komunitas Seni Budaya Nusantara, Freddy H. Istanto—aktivis kebudayaan Tionghoa sekaligus pendiri Surabaya Heritage Society, serta Hangga Ganiadi—visual artist dan pendidik seni rupa, yang juga pengurus Komunitas Seni Budaya Nusantara.

Dalam bincang tersebut, Rasmono menekankan pentingnya melestarikan seni dan budaya Nusantara sebagai warisan luhur bangsa. Ia menyoroti kawasan Jalan Kembang Jepun, Surabaya, sebagai miniatur harmoni antarbudaya yang hidup berdampingan secara dinamis.

“Di Pecinan Surabaya ini, kita bisa melihat langsung perpaduan budaya Tionghoa, Arab, Madura, dan Jawa yang berjalan selaras. Ini adalah potret nyata keanekaragaman budaya Indonesia,” ujar Rasmono.

Kembang Jepun: Lintasan Empat Budaya

Kawasan Kembang Jepun dikenal sebagai salah satu titik bersejarah di Surabaya, yang menyimpan kekayaan budaya dari berbagai etnis dan komunitas:

Budaya Tionghoa

Kuil dan Klenteng: Menjadi pusat spiritual dan kegiatan masyarakat Tionghoa.

Kuliner: Ragam makanan khas seperti bakpao, mie ayam, dan camilan oriental mewarnai suasana jalanan.

Budaya Arab

Masjid dan Arsitektur: Masjid-masjid bergaya Arab klasik dengan sentuhan lokal menjadi ikon kawasan ini.

Kuliner: Hidangan seperti nasi kebuli, martabak, dan teh rempah turut memperkaya cita rasa.

Budaya Madura dan Jawa

Tradisi dan Adat: Upacara adat dan kegiatan religius masyarakat Madura dan Jawa menambah warna kehidupan di wilayah ini.

Kuliner: Sate Madura dan gudeg menjadi sajian khas yang mudah dijumpai.

Harmoni dalam Arsitektur, Kuliner, dan Tradisi

Kembang Jepun bukan sekadar ruang fisik, melainkan lanskap budaya yang hidup. Perpaduan budaya tampak dalam berbagai aspek:

Arsitektur: Gedung-gedung tua bergaya kolonial bercampur dengan ornamen khas Tionghoa dan Arab.

Kuliner: Restoran dan pedagang kaki lima menyajikan menu lintas budaya dalam satu tempat.

Tradisi: Perayaan hari besar lintas budaya dan kegiatan komunitas membentuk atmosfer yang toleran dan terbuka.

“Kami berharap kawasan Pecinan Surabaya bisa dikembangkan seperti Kota Lama Semarang, menjadi destinasi wisata budaya dan edukatif bagi generasi muda,” tambah Rasmono.

Dengan semangat pelestarian dan inklusi, ketiga tokoh tersebut mengajak masyarakat untuk tidak hanya menikmati keindahan budaya, tetapi juga ikut menjaga dan mempromosikannya sebagai identitas bangsa. (Red)