Sembahyang Ci Suak di Kelenteng Hian Thian Siong Tee, Umat Mohon Tolak Bala dan Keselamatan di Tahun Kuda Api
Pengurus Kelenteng Hian Thian Siong Tee (玄天上帝) Surabaya menggelar sembahyang Ci Suak (Ciswak), ritual tradisional Tionghoa yang dikenal sebagai upacara tolak bala dan pembersihan diri menjelang Tahun Baru Imlek. Sembahyang yang diikuti para pengurus dan umat ini berlangsung khidmat pada Minggu (22/2/2026) pukul 10.00 WIB.
Ci Suak merupakan tradisi spiritual dalam ajaran Konghucu, Tao, dan Buddha yang dimaknai sebagai upaya membuang kesialan, menetralisir energi negatif, serta menyucikan diri dari karma buruk di awal tahun. Melalui ritual ini, umat memohon keselamatan, kesehatan, serta kelancaran rezeki sepanjang tahun yang akan datang.
Ketua Yayasan Sahabat Sinoman Indonesia, Budhi Tanuwijaya, menjelaskan bahwa pihaknya rutin mengadakan sembahyang Ci Suak setiap tahun, khususnya bagi mereka yang memiliki shio kurang beruntung atau mengalami “ciong” dengan energi tahun berjalan.
“Shio yang ciong tahun ini adalah kuda, tikus, kelinci, dan ayam. Bagi yang merasa kurang beruntung, tetaplah berbuat baik. Apalagi tahun ini adalah Tahun Kuda Api yang bersifat panas, sehingga kita harus lebih sabar dan bijaksana,” ujarnya.
Menurutnya, sembahyang Ci Suak bukan sekadar tradisi, tetapi juga pengingat bagi umat agar menjaga keharmonisan diri dengan alam semesta. Ketidakselarasan shio diyakini dapat memengaruhi perjalanan hidup seseorang, sehingga melalui ritual ini diharapkan berbagai hambatan dan kesialan dapat diminimalkan dalam satu tahun ke depan.
Sembahyang Ci Suak di Kelenteng Hian Thian Siong Tee menjadi momen refleksi spiritual bagi umat, sekaligus wujud ikhtiar manusia untuk memohon perlindungan Tuhan dan menjalani Tahun Kuda Api dengan hati yang lebih bersih, tenang, dan penuh harapan. Red

