Perayaan Imlek Jadi Sarana Edukasi Budaya di TK STS
Menjelang Tahun Baru Imlek, Taman Kanak-Kanak Surabaya Taipei School (STS) menggelar perayaan Tahun Baru yang meriah pada 20 Januari. Sekitar 250 siswa TK dan orang tua turut hadir untuk bersama-sama menyambut Imlek.
Melalui pertunjukan barongsai, cerita legenda Nian, hingga mencicipi hidangan khas Imlek, STS menghadirkan pesta budaya yang sarat nuansa tahun baru.
Ketua Yayasan STS, Ibu Chen Lihua, serta Direktur Keuangan, Ibu Fan Xiaohui, juga hadir memberikan ucapan selamat sekaligus membagikan angpao sebagai doa agar anak-anak tumbuh dengan bahagia dan sehat.
Acara diawali dengan pertunjukan barongsai. Ketika kepala barongsai berwarna-warni mulai menari mengikuti irama tabuhan genderang, anak-anak bersorak gembira dan suasana langsung mencapai puncak kemeriahan.
Yang menarik, pertunjukan barongsai ini dipersiapkan langsung oleh para staf lokal Indonesia di STS yang secara khusus belajar seni barongsai demi acara ini, sebagai wujud penghormatan dan kecintaan terhadap budaya Tionghoa.
Di akhir pertunjukan, anak-anak dengan bimbingan guru berjinjit untuk “memberi makan” barongsai dengan angpao, yang melambangkan doa dan keberuntungan di tahun baru. Perpaduan budaya lintas negara ini tidak hanya menghadirkan kegembiraan, tetapi juga menanamkan nilai pendidikan multikultural sejak dini.
Untuk memperdalam pemahaman anak-anak tentang asal-usul Imlek, Guru Zhong Qi menyampaikan sesi cerita legenda Nian. Melalui tayangan slide yang menarik, para guru menceritakan kisah monster “Nian” yang dahulu muncul setiap akhir tahun dan menakuti manusia.
Masyarakat kemudian menemukan bahwa Nian takut pada warna merah, cahaya api, dan suara petasan, sehingga lahirlah tradisi menempelkan hiasan merah dan menyalakan petasan saat Tahun Baru Imlek.
Agar semakin seru, juga diadakan sesi kuis berhadiah. Anak-anak dengan antusias mengangkat tangan untuk menjawab pertanyaan seperti “warna apa yang ditakuti Nian?” dan “mengapa kita menempelkan hiasan Imlek?”. Metode pembelajaran interaktif ini membuat budaya tradisional lebih mudah dipahami dan diingat oleh anak-anak.
Bagian yang paling menyentuh adalah pameran dan santap hidangan khas Imlek. Para orang tua dari masing-masing kelas telah mempersiapkan aneka makanan seperti lumpia, pangsit, dan udang saus nanas sejak satu bulan sebelumnya.
Tidak hanya membawa makanan, para orang tua juga mendekorasi stan dengan sangat indah untuk menghadirkan suasana Imlek yang autentik. Setiap stan dihiasi gerbang merah, lampion yang meriah, dekorasi shio Tahun Kuda, serta ornamen emas dan hiasan Imlek yang kental dengan suasana perayaan.
Kepala Sekolah Bapak Yang Shunfu,
menyampaikan bahwa para guru telah mempersiapkan kegiatan ini sejak satu bulan sebelumnya. Ia menegaskan bahwa kegiatan ini tidak hanya menunjukkan komitmen sekolah dalam melestarikan budaya Tionghoa dan pendidikan multikultural, tetapi juga berharap agar pelestarian budaya tidak berhenti di ruang kelas saja, melainkan melibatkan seluruh keluarga. Ia pun menyampaikan terima kasih kepada para orang tua atas dukungan dan partisipasi yang luar biasa.
Acara ditutup dengan makan bersama dalam suasana hangat dan penuh kebersamaan. Anak-anak duduk bersama menikmati berbagai hidangan Imlek yang disiapkan orang tua, dengan wajah penuh kebahagiaan. Jamuan ini menjadi momen berharga bagi anak-anak untuk memahami makna “kebersamaan”—bahwa di mana pun berada, selama hati berkumpul menjadi satu, itulah makna perayaan tahun baru yang paling hangat. (Red)

