News

Ngabungbang, Tradisi Suci Masyarakat Sunda di Batulawang: Menyatukan Cipta, Rasa, dan Karsa

Di tengah derasnya arus modernisasi, masyarakat Desa Batulawang, Kecamatan Pataruman, Kota Banjar, masih setia menjaga tradisi leluhur yang sarat makna spiritual: Ngabungbang. Di bawah cahaya bulan purnama di bulan Mulud, masyarakat berkumpul dengan penuh khidmat melaksanakan ritual tahunan ini.

Ngabungbang berasal dari kata “nga” yang berarti menyatukan dan “bungbang” yang berarti membersihkan. Secara harfiah, ngabungbang bermakna mandi suci untuk menyatukan cipta, rasa, dan karsa, sambil membuang segala perilaku buruk — lahir maupun batin. Bagi masyarakat Batulawang, ini bukan sekadar ritual mandi, melainkan bentuk permohonan ampun dan tobat kepada Allah SWT, serta ikhtiar spiritual untuk memperbaiki diri dan memperkuat semangat hidup.

Ritual ini dipimpin oleh sesepuh adat Desa Batulawang, Ki Demang Wangsafyudin, SH., dan turut dihadiri berbagai tokoh masyarakat, termasuk Ketua DPRD Kota Banjar Drs. R. Dadang Kalyubi, M.Si, serta Kepala Disdikbud Kota Banjar H. Dahlan, SH., M.Si.

Suasana malam terasa hangat dan syahdu. Acara dibuka dengan pembacaan sajak oleh penyair Bayu Soe, disusul pertunjukan pencak silat, gondang buhun, dan kacapi suling yang membawa hadirin larut dalam nuansa budaya Sunda yang kental.

Puncak acara menjadi semakin meriah saat empat penari ronggeng tampil dalam tarian ronggeng ibing, mengajak para tamu dan warga menari bersama. Di momen itu, batas antara penonton dan pelaku tradisi seolah hilang—semua menyatu dalam kegembiraan dan rasa syukur.

Tradisi Ngabungbang bukan hanya simbol penyucian diri, tetapi juga pengingat akan pentingnya menjaga harmoni antara manusia, alam, dan Sang Pencipta. Di Batulawang, warisan leluhur ini tetap hidup—mengalir dari generasi ke generasi sebagai cermin ketulusan dan kearifan budaya Sunda.