Komunitas

Wicara Seniman ARTSUBS: Endang Lestari dan Hermawan Dasmanto Bicara “Tanah” sebagai Medium Seni

SURABAYA – Program Wicara Seniman ARTSUBS menghadirkan perbincangan hangat tentang material tanah dalam seni rupa kontemporer Indonesia, Rabu (27/8/2025) di Selasar Balai Budaya, Balai Pemuda Surabaya.

Dua narasumber, Endang Lestari dan Hermawan Dasmanto, berbagi pengalaman artistik mereka dengan dipandu moderator Nirwan Dewanto. Karya keduanya, bisa dilihat di Pameran ARTSUBS saat ini yang berlangsung hingga 7 September.

Endang Lestari, perupa keramik asal Banda Aceh yang kini menetap di Yogyakarta, menjelaskan karyanya berbahan tepung terakota dan keramik dari tanah Bayat, daerah yang kental dengan tradisi gerabah. Baginya, tanah bukan sekadar medium teknis, melainkan sahabat dan guru yang merekam memori budaya, sejarah, hingga pengalaman personal.

“Tanah liat menyimpan banyak cerita—tentang kehadiran, kelahiran, dan keabadian. Mengolahnya adalah perjalanan panjang yang penuh tantangan, tetapi juga kedalaman makna,” ungkap Endang, yang sudah lebih dari 30 tahun berkarya dengan keramik dan menjalankan Proyek ArsKala.

Sementara itu, arsitek dan seniman Hermawan Dasmanto, pendiri ARA Studio di Surabaya dan Bali, menyoroti hubungan erat antara arsitektur dan seni rupa. Ia menegaskan, praktik desain arsitektur dapat meresap ke dalam praktik artistik, menciptakan pendekatan baru yang segar dan lintas disiplin.

“Arsitektur dan seni tidak berjalan sendiri-sendiri. Keduanya bisa saling mengisi, menghadirkan cara pandang baru terhadap ruang dan kehidupan,” jelas Hermawan, yang juga dikenal lewat berbagai karya arsitektur pemenang sayembara nasional.

Tentang Para Seniman

Endang Lestari (Banda Aceh, 1976) – seniman keramik lulusan ISI Yogyakarta, dikenal karena eksplorasi tanah liat dan logam dalam karya dua dimensi hingga instalasi. Ia pernah berpameran di dalam dan luar negeri, termasuk Leichtenstein Triennale.

Hermawan Dasmanto (Surabaya, 1980) – arsitek lulusan Universitas Kristen Petra, pendiri ARA Studio. Studio ini menggarap proyek residensial hingga lanskap, dan pernah meraih Juara 1 Urban House Indocement Award 2012.

Diskusi ini bukan sekadar membicarakan medium, tetapi juga perjalanan hidup, tantangan, dan cara seniman membangun dialog dengan tanah—sebagai bagian dari identitas budaya sekaligus pijakan untuk melahirkan karya kontemporer yang berakar pada tradisi. (Red)