Komunitas

Lukisan On the Spot, Dokumentasi Wedding yang Hidup dan Humanis

Ada yang berbeda di beberapa acara pernikahan belakangan ini. Bukan sekadar dokumentasi foto atau video, tapi juga lukisan yang dibuat langsung di tempat oleh pasangan suami istri pelukis Ami Tri dan Budi Bi.

Dua seniman ini menawarkan pengalaman unik: melukis on the spot, yakni melukis langsung di lokasi acara, di hadapan para tamu undangan. Hasilnya bukan hanya karya seni bernilai tinggi, tetapi juga menjadi tontonan menarik yang menambah suasana meriah.

Ami Tri, Ketua Komunitas Seni Rupa Garis Gathuk periode 2025, menjelaskan bahwa ia dan Budi Bi sering menerima pesanan melukis langsung di berbagai momen penting, mulai dari pernikahan, ulang tahun perusahaan, hingga peresmian gedung baru.

“Melukis langsung itu seperti mengabadikan momen, tapi dengan sentuhan jiwa. Klien biasanya ingin potret pengantin lengkap dengan dekorasi panggung, sehingga hasilnya terasa personal dan istimewa,” kata Ami.

Dalam praktiknya, keduanya berbagi peran agar proses bisa lebih cepat. Budi Bi menangani komposisi besar dan bentuk global, sedangkan Ami Tri menyempurnakan detail serta ornamen. Rata-rata, dalam waktu 3–4 jam, sebuah kanvas kosong sudah berubah menjadi lukisan siap dibawa pulang.

Bagi para tamu, proses ini menjadi hiburan tersendiri. Mereka bisa melihat bagaimana goresan awal berkembang menjadi karya utuh, seperti menyaksikan sebuah pertunjukan seni langsung di tengah resepsi.

“Selain memberi kenang-kenangan eksklusif bagi klien, kegiatan ini juga ikut menumbuhkan apresiasi seni rupa di masyarakat,” tambah Ami.

Garis Gathuk, komunitas yang mereka naungi, beranggotakan beragam profesi—mulai dari seniman, guru, mahasiswa, hingga pekerja kantoran—namun semuanya memiliki semangat yang sama untuk memajukan seni rupa di Surabaya.

Apresiasi juga datang dari Ketua Komunitas Seni Budaya Nusantara, Rasmono Sudarjo. Ia menilai praktik melukis on the spot tidak hanya menantang bagi seniman, tetapi juga bermanfaat bagi masyarakat.

“Lukisan itu bisa menjadi kenang-kenangan berharga bagi pengantin. Di sisi lain, para pelukis juga mendapat kesempatan berkarya sekaligus penghasilan. Harapannya, makin banyak seniman yang kreatif memanfaatkan momen-momen sosial di masyarakat,” ujarnya.

Melukis langsung di lokasi acara, bagi Ami dan Budi Bi, bukan sekadar pekerjaan, tetapi juga cara menghadirkan seni lebih dekat ke kehidupan sehari-hari. “Kami ingin orang merasakan bahwa seni bisa hadir di mana saja, bahkan di hari paling bahagia dalam hidup mereka,” tutur Ami dengan senyum. (Red)