News

Festival Kuliner Pecinan Jakarta 2026 Hadir di Surabaya, Rayakan Kekuatan Multikultur Lewat Cita Rasa

Masyarakat Surabaya kini tak perlu jauh-jauh ke Jakarta untuk menikmati ragam kuliner khas Pecinan. Grand City Mall Surabaya menghadirkan Festival Kuliner Pecinan Jakarta 2026 yang berlangsung pada 6–15 Februari 2026, sebagai bagian dari perayaan Tahun Baru Imlek 2577 Kongzili.

Digelar di Main Atrium G Floor Grand City Mall Surabaya, festival ini menghadirkan suasana meriah khas Pecinan Jakarta. Tidak sekadar menjadi ajang wisata kuliner, festival ini juga menjadi perayaan budaya Tionghoa-Indonesia yang menegaskan identitas Surabaya sebagai kota multikultural.

Lebih dari 30 tenant kuliner turut ambil bagian, menyajikan beragam hidangan legendaris hingga kuliner viral. Beberapa di antaranya adalah iL Gusto Pizza, Sin Hwa Char Kway Teow, Rak Thai by Kak Nanaphat, Mie Balap Wahidin, Gohyong Menteng 1985, Serabi Notosuman Ny. Handayani, serta aneka kue dari Mamitoko seperti cheese bread, cake in jar, hingga rujak Aceh. Ragam pilihan ini menjadikan festival sebagai destinasi wisata gastronomi yang ramah keluarga.

Pakar Pariwisata Universitas Airlangga Surabaya, Dr. Sri Endah Nurhidayati S.Sos., M.Si., menilai festival ini sebagai ruang perayaan Imlek yang autentik melalui pendekatan kuliner. Selain mempertemukan makanan legendaris, hits, dan viral dalam satu tempat, kegiatan ini juga memberikan dukungan nyata bagi Usaha Mikro Kecil dan Menengah kuliner lokal.

Imlek atau Chinese New Year merupakan perayaan tahun baru dalam kalender lunisolar Tionghoa yang jatuh antara akhir Januari hingga pertengahan Februari. Pada tahun 2026, Imlek diperingati pada 17 Februari dan dikenal pula sebagai Festival Musim Semi, yang melambangkan harapan baru, keberuntungan, serta kebersamaan keluarga.

Berbagai tradisi khas turut mewarnai perayaan Imlek, seperti makan malam keluarga, pertunjukan barongsai dan tarian naga, pembagian angpao, pemasangan lampion merah dan hiasan chunlian, hingga pesta kembang api dan petasan sebagai simbol pengusiran energi negatif.

Dalam konteks kuliner, Imlek identik dengan hidangan sarat makna simbolis, seperti kue keranjang yang melambangkan kebersamaan dan rezeki, mie panjang umur sebagai doa untuk umur panjang, ikan sebagai simbol kelimpahan, jeruk yang melambangkan kemakmuran, serta kue mangkok yang membawa harapan kebahagiaan.

Menurut Sri Endah Nurhidayati, tradisi Imlek memiliki potensi besar untuk dikembangkan sebagai daya tarik wisata di Surabaya. Peluang tersebut meliputi pengembangan wisata budaya melalui pertunjukan barongsai, liang liong, musik tradisional Tionghoa, pameran kaligrafi, wayang potehi, hingga teater tradisional. Dari sisi wisata kuliner, festival makanan khas Imlek dapat dikemas lebih luas melalui kolaborasi dengan UMKM, termasuk penyediaan menu halal dan non-halal yang inklusif.

Selain itu, wisata religi dan heritage seperti tur klenteng bersejarah serta paket edukasi sejarah komunitas Tionghoa di Surabaya juga dinilai potensial. Penguatan konsep event modern, seperti parade lampion, bazar Imlek, dan lomba kostum tradisional Tionghoa dengan melibatkan influencer dan food blogger, diyakini mampu menarik minat generasi muda. Red