Alumni TRISILA Surabaya Rayakan Natal & Galang Dana Peduli Bencana Sumatra
Di tengah gemerlap lampu Natal dan lagu-lagu penuh nostalgia, para alumni angkatan 1970 hingga 1980 Sekolah TRISILA Surabaya kembali dipertemukan dalam sebuah malam penuh kehangatan di Restoran Layar Surabaya, (2/12/25).
Lebih dari sekadar temu kangen, momen ini menjadi ruang untuk berbagi cinta kasih, karena di balik canda tawa yang memenuhi ruangan, terselip kepedulian mendalam untuk saudara-saudara di Sumatra yang sedang berjuang akibat bencana banjir.
Sejak pukul 17.30, satu per satu alumni hadir membawa senyum dan cerita lama. Ada yang kembali bertemu teman sebangku setelah puluhan tahun, ada yang langsung tenggelam dalam obrolan seakan masa sekolah itu baru kemarin. Sekitar 45 alumni hadir malam itu dan setiap pelukan serta salaman terasa seperti waktu yang perlahan diputar kembali.
Acara resmi dimulai pukul 19.00 dipandu oleh ketua panitia, Ibu Huang Anxian. Dalam sambutannya, ia menyoroti makna pertemuan ini bukan hanya bersuka cita merayakan Natal, tetapi juga menyalurkan kepedulian kepada mereka yang sedang ditimpa musibah. Banji besar di Aceh, Sumatra Utara, dan Sumatra Barat telah merenggut rumah serta mata pencaharian banyak warga. “Kita mungkin jauh secara jarak, tapi hati kita dekat,” ungkapnya.
Aksi solidaritas itu pun berbuah nyata. Berkat uluran tangan para alumni yang hadir, terkumpul dana sebesar 15 juta rupiah yang akan disalurkan melalui yayasan resmi untuk membantu korban banjir memenuhi kebutuhan mendesak.
Ibu Huang juga menyampaikan terima kasih kepada para donatur dan panitia yang telah bekerja keras membuktikan bahwa persahabatan masa sekolah dapat berubah menjadi kekuatan nyata untuk membantu sesama.
Prosesi simbolis penyerahan donasi berlangsung hangat dan penuh harapan. Lampu Natal kemudian dinyalakan bersama, seolah menjadi simbol cahaya kecil yang dikirimkan dari Surabaya untuk menerangi duka di Sumatra. Doa pun dipanjatkan agar para korban dapat bangkit dan memulai kembali kehidupan mereka.
Suasana semakin meriah dengan makan malam bersama, perayaan ulang tahun salah satu alumni — Gunawan pertukaran hadiah Natal, dan atraksi hiburan sederhana yang mengundang tawa.
Namun momen paling bermakna justru muncul menjelang akhir acara, saat para alumni sepakat membentuk Kelompok Kesejahteraan dan Bantuan Antaralumni — sebuah komitmen untuk saling mendukung ketika ada teman yang sedang sakit, berduka, atau ditimpa kesulitan.
Wanto Tandya salah satu alumni menyampaikan alumni memiliki kepedulian tinggi terhadap masyarakat Indonesia yang terkena bencana.
Dari reuni kecil di sebuah restoran, lahirlah sebuah gerakan hati: bahwa persahabatan bukan hanya kenangan, tetapi juga penguat ketika hidup tiba-tiba berubah arah. Malam itu, nostalgia bertemu kepedulian, dan Natal kembali menemukan maknanya — menghadirkan harapan. (Red)

