Komunitas

Lima Dekade Lebih Bersahabat, Alumni YP Trisila Rayakan Reuni dan Hari Bakcang Penuh Haru

SURABAYA – Suasana haru dan hangat menyelimuti Restoran Layar Surabaya pada Minggu (1/6/25) petang. Sebanyak 50 alumni TK, SD, dan SMP Yayasan Pendidikan (YP) Trisila Surabaya angkatan 1970 berkumpul dalam acara “55 Tahun Persahabatan: Temu Kangen Alumni YP Trisila 1970–2025.” Momen ini sekaligus dirangkai dengan perayaan Hari Bakcang, sebuah tradisi penting bagi masyarakat Tionghoa.

Acara dimulai tepat pukul 18.00 WIB, dengan pembagian lima bakcang besar secara simbolis kepada perwakilan teman dan guru. Setiap tamu juga menerima bakcang kecil sebagai lambang kebersamaan dan kehangatan pertemuan.

Wanto Tandya (陈君源), alumni sekaligus penggagas acara, menjelaskan bahwa pemilihan tanggal reuni bertepatan dengan Hari Bakcang bukan tanpa alasan. “Hari Bakcang adalah momen keluarga berkumpul. Begitu pula dengan reuni ini—kami ingin membangkitkan kembali rasa kebersamaan setelah 55 tahun tidak bertemu,” ujarnya.

Ia menambahkan, total 200 bakcang dibagikan dalam acara tersebut, termasuk lima bakcang berukuran jumbo yang dimasak hampir sepuluh jam dengan bahan pilihan, seperti ikan, jamur, dan rempah-rempah. “Bakcang ini kami datangkan langsung dari kota asalnya, dengan proses pengerjaan selama dua hari,” ungkapnya.

Mengenang Guru Tercinta

Salah satu momen paling menyentuh terjadi saat Ibu Erlinakusuma, guru yang pernah mengajar para alumni di masa kecil, hadir sebagai tamu kehormatan. Kini berusia 77 tahun, beliau menjadi satu-satunya guru yang masih hidup dari generasi tersebut.

“Saya sangat terharu karena kalian masih ingat saya setelah 55 tahun. Kalian semua membuat hati saya bahagia,” ujar Guru Erlinakusuma dengan suara bergetar. Ia bahkan sempat menceritakan kembali masa-masa awal menjadi guru di Trisila, disambut tawa dan kenangan dari para mantan muridnya.

Sebagai bentuk penghormatan, panitia dan alumni memberikan angpao serta pelukan hangat untuk sang guru. “Ini adalah bagian terindah dari acara kami,” tambah Wanto Tandya.

Penuh Canda, Lagu, dan Tawa

Acara pun berlanjut dengan berbagai permainan dan hiburan. Suasana semakin meriah dengan sesi menyanyi, menari dan bersulang bersama. Para alumni larut dalam nostalgia, saling berbagi cerita masa kecil hingga dewasa.

Shinta (黄安贤), ketua panitia, mengaku bahagia bisa menghadirkan suasana yang meriah namun tetap intim. “Biasanya kita merayakan bakcang hanya bersama keluarga atau kelompok kecil. Sekarang bisa berkumpul sebanyak ini, rasanya luar biasa,” ujarnya.

Ia juga turut memperkenalkan satu per satu teman yang hadir, dengan berbagai latar belakang. Ada yang hadir sebagai kakek-nenek, ada yang masih sendiri, dan sebagian datang bersama pasangan.

Pranoto Sunyoto (郭振勇), anggota panitia lainnya, menyebut pertemuan ini sebagai anugerah. “Kami bersyukur bisa bertemu kembali dalam keadaan sehat. Harapannya, reuni seperti ini bisa terus diadakan di tahun-tahun mendatang.”

Kenangan yang Tak Akan Hilang

Sebagai penutup, seluruh peserta menerima goodie bag dari panitia. Senyum dan pelukan mengakhiri malam penuh kenangan itu. Semua sepakat, 55 tahun bukan sekadar angka—melainkan bukti bahwa persahabatan sejati tak lekang oleh waktu. (Red)