Pendidikan

Pindapata, Jejak Cinta Kasih dan Toleransi di Hari Waisak

Kota Solo kembali menjadi saksi langkah sunyi para Bhante yang menyusuri jalanan tanpa alas kaki dalam prosesi sakral Pindapata, Kamis (29/5/2025). Prosesi ini menjadi bagian dari peringatan Hari Raya Waisak, yang dipenuhi keheningan dan kehangatan di Balai Kota Solo.

Dalam suasana pagi yang hening, belasan Bhante, calon biksu (Samanera), dan perempuan pertapa (Atthasilani) dari berbagai daerah—seperti Jawa Tengah, Jawa Timur, dan Banten—berjalan perlahan, menapaki jalan Dharma. Mereka menerima dana makanan dari para umat Buddha dan warga yang dengan penuh hormat menyambut kehadiran para pemuka spiritual tersebut.

Pindapata bukan sekadar tradisi, tetapi simbol dari nilai-nilai universal: kerendahan hati, cinta kasih, dan toleransi. Setiap butir beras, setiap senyum yang diberikan, adalah ungkapan ketulusan hati dan penghormatan terhadap kehidupan sederhana serta pengendalian diri yang dijalani para Bhante.

Bhante Jayaratno Thera, salah satu pemimpin ritual, menyampaikan rasa terima kasihnya kepada masyarakat Solo yang telah menerima dan mendukung pelaksanaan Pindapata. “Saya mengapresiasi Kota Solo yang menjadi tuan rumah kegiatan ini. Di sini kami tidak hanya menerima sedekah, tetapi juga kehangatan dan cinta kasih dari masyarakat,” ucapnya.

Warga tampak antusias mengikuti kegiatan ini, tidak hanya umat Buddha, tetapi juga masyarakat lintas keyakinan. Momen ini mempererat jalinan persaudaraan dan menegaskan bahwa kebaikan dan penghargaan terhadap sesama bisa melampaui batas agama maupun budaya.

Pindapata mengajak kita semua untuk menundukkan hati, berbagi tanpa pamrih, dan membuka ruang toleransi yang lebih luas dalam kehidupan sehari-hari. Di tengah hiruk-pikuk dunia, langkah sunyi para Bhante menjadi pengingat bahwa kesederhanaan dan kasih sayang adalah inti dari kedamaian. (Red)