Puluhan Mahasiswa Asing Antusias Belajar Budaya Indonesia di SMP NSA Surabaya
Surabaya – Sebanyak 28 mahasiswa asing bersama 6 dosen dan staf dari 11 negara, melakukan kunjungan ke SMP Nation Star Academy (NSA) Surabaya, Selasa 24 Februari 2025.
Mereka berasal dari Tiongkok, Thailand, Rusia, Vietnam, New Zealand, Filipina, Jepang, Cambodia, India, Uzbekistan, dan Malaysia.
Kunjungan ini bertujuan untuk mengenal lebih dekat budaya Indonesia, melalui seni musik tradisional dan tarian khas daerah.
Kegiatan ini merupakan bagian dari program Community and Technological Camp (CommTECH) Insight 2025, hasil kolaborasi NSA dengan Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) melalui Direktorat Kemitraan Global (DKG). Program internasional jangka panjang ini telah berjalan sejak tahun 2015.
Dalam kegiatan tersebut, para siswa SMP NSA menampilkan keahlian mereka dalam memainkan Gamelan, Angklung, Kulintang, serta menari tarian tradisional Gelang Ro’om khas Madura.
Penampilan ini semakin istimewa dengan atraksi seni bela diri Wushu, yang turut dipersembahkan oleh siswa-siswi NSA.
“Ini adalah kesempatan untuk melatih siswa kami dalam berkolaborasi dan berkomunikasi dengan tamu internasional. Di sisi lain, kami juga ingin memperkenalkan talenta siswa kami dalam seni budaya tradisional,” ujar Kepala SMP NSA, Inggriette Liany Widyasari.
Para tamu internasional tidak hanya menjadi penonton. Mereka juga diajak untuk mencoba memainkan alat musik tradisional Indonesia.
Dibagi menjadi beberapa kelompok, para mahasiswa dan dosen asing belajar memainkan Kulintang, Gamelan, dan Angklung dengan bimbingan langsung dari para siswa.
Antusiasme para tamu terlihat jelas, saat mereka mencoba mempelajari ritme dan harmoni alat musik tersebut.
Pengalaman ini menjadi unik, karena mereka belajar langsung dari siswa yang terlatih, melalui program Sharpening Student’s Potential (SSP) ekstrakurikuler unggulan di NSA.
Menurut Inggriette, program ini tidak hanya menjadi ajang berbagi budaya. Tetapi juga wujud komitmen NSA dalam mendukung pelestarian seni tradisional Indonesia.
“Kegiatan ini mengajarkan pentingnya menghargai budaya lokal. Sekaligus membuka wawasan internasional siswa kami,” pungkasnya. (Red)

