Pendidikan

Pariwisata UNAIR Gelar Nobar & Diskusi Film

Film merupakan karya pesan yang hendak disampaikan kepada penonton. Karenanya, proses produksi akan mengemas sedemikian rupa agar pesan yang hendak disampaikan, benar-benar bisa ditangkap oleh penonton.

Demikian disampaikan oleh Dr. Yuniawan Heru dalam acara pemutaran film dan diskusi tentang screen tourism berbasis folklor.

Digelar hari Kamis (19/12/24) acara nonton bareng ini, sekaligus dimanfaatkan oleh sivitas akademika Universitas Airlangga (UNAIR), untuk berdiskusi dengan para pemegang kebijakan di sektor pariwisata.

Hadir sebagai nara sumber, yaitu Satria Devi Kurniawan, S.STP yang mewakili Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Provinsi Jawa Timur.

Sementara dari kalangan kampus, menghadirkan Rani Sukma Ayu Suteja, S.I.Kom., M.Sc., selaku dosen Ilmu Komunikasi UNAIR dan Dr. Yuniawan Heru Santoso, M.Si., selaku dosen Destinasi Pariwisata UNAIR.

Acara yang digelar di studio Alexa FISIP UNAIR ini, juga mengundang mahasiswa dan anggota komunitas film.

Selain itu, diskusi juga dihadiri oleh Norman Handito, S.IP., M.Si., selaku Kepala Disbudporapar Kabupaten Mojokerto. Lalu ada juga M. Iwan Abdillah, S. H, S. Sos, M. Si., selaku Kepala BPKAD Kabupaten Mojokerto, dan perwakilan dari Bidang Pariwisata pada Disbudporapar Kota Surabaya.

Film berjudul Menyemai Jejakmu ini, merupakan film bergenre screen tourism berbasis folklor yang telah melakukan syuting di seputar area Trawas, Mojokerto.

Film ini merupakan karya dari sivitas akademika pada Prodi Destinasi Pariwisata, Fakultas Vokasi Universitas Airlangga.

“Melalui praktikum, sebelumnya kami sudah sering membuat semacam video promosi atau jingle. Nah, ini kami merasa perlu untuk mulai membuat film. Saya rasa, film lebih tak lekang oleh waktu,” demikian ujar Dr. Yuniawan Heru, yang juga mengajar pada mata kuliah Visualisasi Pariwisata ini.

Menurutnya, ia memang sengaja mengajak mahasiswa untuk membuat screen tourism berbasis folklor. Hal ini disebabkan, bahwa Trawas diketahui kaya akan cerita rakyat.

“Pada saat pak Iwan Abdillah masih bertugas sebagai Camat Trawas, saya mengetahui bahwa Trawas ini memiliki kekayaan foklor.

Buku beliau tentang Trawas, kemudian saya jadikan referensi untuk melengkapi data yang kami peroleh di lapangan,” ungkap Dr. Yuniawan Heru yang juga bertindak selaku sutradara film Menyemai Jejakmu.

Hal ini juga didukung oleh nara sumber lain. Film disebut dapat meningkatkan promosi dan citra positif destinasi.

“Folklor memang dapat digunakan untuk memasarkan citra dari suatu destinasi. Namun juga harus diperhatikan, bahwa foklor juga dapat memberi kesan negatif bagi suatu destinasi,” demikian papar Rani Sukma Ayu Suteja, S.I.Kom., M.Sc., yang juga memiliki minat studi pada bidang komunikasi pemasaran.

Dikatakan olehnya, bahwa Indonesia memang memiliki banyak folklor. Terkadang masyarakat mengenal suatu kota atau daerah, dikarenakan terlebih dahulu telah mendengar legenda yang berasal dari wilayah tersebut.

Sementara menurut Satria, pihaknya juga mengakui bahwa melalui film, akan dapat mendorong penonton untuk mengunjungi lokasi yang ada di dalam film.

“Sebagai wadah bagi para sineas, kami juga ada KOMFILASI. Lomba film asli Jawa Timur,” tutur Satria, yang juga sebagai Adyatama Parekraf Ahli Muda pada Disbudpar Provinsi Jawa Timur. Diharapkan hal ini bisa menjadi lokomotif penggerak ekonomi kreatif sektor film.

Pada akhir sesi paparan, para audiens juga diberi kesempatan untuk memberikan pendapatnya.

Sivitas akademika yang hadir pada diskusi siang itu, antara lain Prof. Dr. Bambang Suharti, S.ST., M.M.Par., Dr. Nuruddin, S.S., MA., Nur Emma Suryani, S. Sos. M.Si., dan M. Reizza Al Ariyah, S.Sosio., M. Sosio.

Acara kali ini bisa terselenggara dengan baik, berkat kerja sama antara Himpunan Mahasiswa Pariwisata Fakultas Vokasi dan Himpunan Mahasiswa Komunikasi FISIP Universitas Airlangga. (Red)