Kamera HP VS Kamera Serius Dikupas Tuntas oleh Singgih Tamardi di Pelatihan Seni Fotografi Diselenggarakan PMTS

Kamera handphone saat ini terbilang sangat bagus dengan resolusi tinggi, sehingga menghasilkan gambar gambar menarik, ditambah lagi aplikasi pengedit foto yang cukup canggih.

Namun, bagi para fotografer profesional, kamera ponsel masih belum bisa menandingi hasil gambar kamera serius yakni DSLR dan Mirrorless.

Kamera serius memiliki kualitas gambar sangat tajam dibanding kamera ponsel. Karena kamera serius memiliki sensor lebih besar, lensa yang bagus, autofocus, didukung fitur-fitur lainnya. Lensa DSLR pun bisa diganti sesuai kebutuhan fotografer, tentu saja berbeda dengan kamera handphone.

Hal ini diungkap Singgih Tamardi pendiri Surabaya School of Photography, sejak tahun 1992 hingga kini masih eksis.

Singgih Tamardi berbagi ilmunya kepada puluhan peserta Kelas Pelatihan Seni Fotografi, di Gedung Yayasan Bhakti Persatuan, pada Sabtu 8 Juni 2024.

“Walaupun dikatakan kamera HP beresolusi tinggi, tetap tidak bisa menandingi kamera serius, apalagi hasil cetak,” jelasnya.

Oleh karenanya harga kamera serius terbilang mahal untuk jenis merek tertentu dengan kelebihan dan kecanggihannya.

Singgih pun menyebut merek kamera buatan Jepang yang cukup populer di masyarakat, di antaranya; Canon, Nikon, Sony, Panasonic, FujiFilm, Olympus, Pentax dan Sigma. Sedangkan kamera buatan Jerman yakni Leica termahal di dunia.

Singgih pun mengupas tuntas secara detail tentang kamera serius yang kurang dipahami banyak orang. Termasuk saat akan membeli kamera sesuai kebutuhan. Demikian pula harga kamera DSLR ada yang jutaan, belasan, hingga ratusan juta.

“Produsen kamera membuat beberapa tipe kamera DSLR, mulai dari tipe APSC dengan low end, semi pro hingga level profesional. Semakin tinggi levelnya semakin mahal harganya,” jelasnya.

Singgih juga menjelaskan tentang kamera langsung jadi atau polaroid yang pernah ngetren di masanya.

“Dulu kamera polaroid dibuat untuk membuat pas foto yang dibutuhkan dengan cepat. Juga memotret desain untuk melihat hasilnya. Tapi kini kamera serius sangat canggih hasil foto bisa langsung dilihat dan dishare ke WhatsApp, juga dicetak di printer portabel,” terangnya.

Denny D’Colo, Rasmono Sudarjo dan Singgih Tamardi

Kebanyakan peserta masih ingin melanjutkan ke pertemuan berikutnya. Karena satu sesi kelas pelatihan hanya berlangsung 2 jam saja.

Rasmono Sudarjo Sekjen PMTS mengatakan kelas fotografi sudah berjalan 8 kali pertemuan dan paling banyak diminati peserta, karena menghadirkan para mentor berpengalaman, sehingga menambah wawasan.

“Tujuan diadakannya kelas seni ini untuk pelestarian budaya Tionghoa, berbagi ilmu dan membantu kaum difabel untuk mandiri. Kebetulan beberapa anak anak disabilitas turut menjadi peserta, selain muda mudi dan lansia,” terang Rasmono Ketua SAS.

Pelatihan seni selalu berganti materi, seperti kelas menyanyi, menari, fotografi, Shufa, videografi, melukis dan sebagainya.

Kelas Pelatihan Seni ini digelar gratis untuk muda mudi dan semua kalangan, diselenggarakan oleh; Yayasan Bhakti Persatuan (YPB), Paguyuban Masyarakat Tionghoa Surabaya (PMTS), Perkumpulan Pengusaha Indonesia Tionghoa (PERPIT), Yayasan Haji Muhammad Cheng Hoo Indonesia (YHMCHI), Asosiasi Pengusaha Indonesia (APINDO), Surabaya Art Society dan Unimaxx Photography Community, dan Paguyuban Sosial Marga Tionghoa Indonesia (PSMTI) Jatim. (Red)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *