M Sudarmaji, warga Kecamatan Pandaan, Kabupaten Pasuruan, sengaja memilih ikan wader merah untuk dibudidaya, karena pertumbuhannya sangat cepat, lebih adaptif, tahan penyakit serta punya rasa enak, renyah dan gurih di lidah.

“Ikannya cepet besar, kuat, dan rasanya gurih enak kalau dimakan,” ucap Sudarmaji saat ditemui Diskominfo Pasuruan, di kolam miliknya, Selasa (22/08/2023).

Ia menjelaskan pada tahun 2017 menjadi momen awal mengenal wader merah alias wader abang. Sebelumnya ia membudidayakan lele, nila dan gurami.

“Saya mulai tahun 1988 sudah bergelut sama ikan nila, lele dan gurami. Tapi pasang surut, sampai saya ketemu wader merah ini,” ungkapnya.

Untuk memulai usahanya, Sudarmaji belajar dengan teknik pemijahan semi buatan. Dia memanfaatkan lahan tanah persawahan miliknya yang disulap menjadi kolam ikan.

Dia pun belajar selama empat tahun dan telah melalui banyak eksperimen.

“Saya pilih fokus dan konsentrasi budi daya benih saja untuk wader merah ini. Karena keterbatasan kolam dan lahan. Selain itu, saya juga budi daya ikan hias di lahan yang sama. Jadi sama-sama jalan,”ujarnya.

Hingga Juli 2021, ikan ini menjadi fokus utamanya. Dia pun makin mantap, karena sistem Pemijahan Ikan Wader Merah Semi Buatan (PIWARAH SIBU) yang dipakainya, hasilnya lebih maksimal. Termasuk untuk omset yang didapatkan.

“Pemijahan itu sama artinya dengan perkawinan. Untuk pembenihan bibit wader merah ini, saya pakai cara semi buatan yang biasa saya sebut Piwarah Sibu,” jelasnya.

Untuk budi daya benih wader merah, sejatinya ada banyak teknik. Seperti pemijahan alami, semi buatan dan buatan.

Dari ketiga teknik proses pemijahan tersebut, dia fokus dengan pemijahan semi buatan. Karena dengan pemijahan semi buatan, menghasilkan daya tetas yang tinggi. Kemudian benih yang dihasilkan lebih adaptif.

Bibit inilah yang membuatnya mampu meraup rupiah. Sebab Sudarmaji bisa menyediakan benih ikan lokal buat re-stocking perairan umum, dan menjaga kelestarian ikan wader merah di alam.

“Pemijahan semi buatan ini menghasilkan benih ikan wader merah tidak tergantung pada alam dan musim. Dapat dilakukan setiap waktu juga mempercepat waktu siklus pemijahan dan memperkecil tingkah kematian induk,” tuturnya.

Kolam pemijahan hanya berukuran 1×2 meter. Ini bisa diisi dengan jumlah indukan maksimal 300 ekor. Terdiri dari 100 ekor betina dan 200 ekor jantan. Dan dari 300 ekor indukan tersebut, bisa menghasilkan larva sebanyak sekitar 500.000 ekor.

Di lahan miliknya, sudah ada beberapa kolam pemijahan. Kapanpun atau setiap saat siap untuk digunakan atau dimanfaatkan untuk pemijahan. Kemudian per larva atau bibitnya dijual.

“Jumlah yang kami kirim sesuai permintaan dari pembudidaya. Sehingga sebulan, omzet kotornya bisa mencapai sekitar puluhan jutarupiah,” katanya.

Berkat budi daya benih wader merah, dia seringkali didapuk menjadi narasumber Piwarah Sibu. Untuk pelatihan serta diklat, yang kerap diadakan Dinas Perikanan Pemprov Jatim maupun Pemkab Pasuruan hingga sejumlah perguruan tinggi.

Atas inovasi Piwarah Sibu ini, ia juga pernah juara satu lomba inovasi dan teknologi Pasuruan Maslahat 2023, dengan kategori teknologi dan nonteknologi. (Red)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *