Peduli Benda Bersejarah, Hary Nugroho Dirikan Museum 13 Bojonegoro

Hary Nugroho sangat konsen pada dunia kepurbakalaan. Ia mendirikan Museum 13 (baca; satu tiga) untuk menyelamatkan peninggalan benda bersejarah.

Menurut Hary Nugroho, pemilik sekaligus pengelola Museum 13, adanya fosil di Bojonegoro menunjukkan sejarah panjang kabupaten Bojonegoro.

Museum 13 berada 15,1 km dari pusat kota atau sekitar 20 menit, tepatnya di SDN II Panjunan, Kecamatan Kalitidu, Kabupaten Bojonegoro, Jawa Timur.

Hary mengatakan Museum 13 berdiri sejak 1989 dan kini telah berumur 33 tahun sejak penemuan fosil pertama.

Berbekal melihat peta geologi, beberapa titik penjelajahan di antaranya Desa Drenges, Kecamatan Sugihwaras dan Kali Gandong di Kecamatan Sugihwaras yang juga merupakan anak kali tertua. Ada juga di Desa Pragelan, Kecamatan Gondang dan Desa Wotanngare, Kecamatan Kalitidu.

Hary juga mengatakan penamaan Museum 13, memiliki filosofi khusus, satu (1) merupakan Tuhan Yang Maha Esa, sementara tiga (3) mengambil proses kehidupan, di antaranya lahir, hidup, dan mati. Seperti ahli Paleontologi, secara komunal ‘nggladak’ di berbagai wilayah di Kabupaten Bojonegoro.

“Nggladak istilah teman-teman saat proses mencari dan penyelamatan fosil purba. Ketertarikan di dunia Paleontologi ini bermula saat dulu mencari bebatuan akik. Saat itulah temuan fosil pertama yaitu fosil gigi dan kaki gajah. Terbaru, ada penemuan 79 spesies molusca di Kabupaten Bojonegoro,” terangnya.

“Sementara di Maret 2022 ini ditemukan fosil Stegodon Trigonochephalus Ivory (gading) berdiameter 42 cm x 9 cm di Desa Ngluyu, Kecamatan Rejoso, Kabupaten Nganjuk. Masih banyak lagi temuan-temuan lain di wilayah Bojonegoro yang sudah tak terhitung lagi, “ jelas Hary, Senin (13/6/2022).

Hary menyulap ruang kelas menjadi layaknya museum atau serupa laboratorium bersejarah, khusus mengulik paleontologi – ilmu tentang fosil hewan dan tumbuhan.

Ada dua etalase kaca berukuran besar dan dua rak sederhana. Semua untuk memajang hasil temuan Hary beserta 13 orang dan jumlah anggota kebetulan sama seperti nama museum. Dan pengelolaan museum secara mandiri ini pun mendapat perbantuan konservasi dari Sragen dan Museum Geologi Bandung. (Red)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.