Cerita Kebersamaan Ganjar dan Warga Tionghoa Tepat di Hari Tahun Baru Imlek 2022

Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo, mengunjungi veteran perang keturunan Tionghoa, Trisno Yoewono (77 tahun) kelahiran Bojonegoro yang turut serta di sejumlah pertempuran, salah satunya Pertempuran Lima Hari Semarang.

Yoewono berserta keluarga menyambut Ganjar dengan bahagia di rumahnya di bilangan Bulusan, Kecamatan Tembalang.

Yoewono sudah beberapa kali bertemu gubernur di acara resmi yang melibatkan veteran, namun tidak menyangka, Gubernur Ganjar berdiri di depan pintu rumahnya.

“Nama kecil saya Lie Xia Yu. Saya ganti ya karena jaman Soeharto dulu. Kira-kira tahun 68. Yu-nya dipakai untuk Yoewono, jadi Trisno Yoewono,” ujarnya membuka percakapan.

Meski cukup banyak pejuang kemerdekaan keturunan tionghoa tetapi keberadaannya tidak banyak dikenal masyarakat. Padahal mereka turut berperang merebut dan mempertahankan kemerdekaan RI.

“Piyantun kaya jenengan (orang seperti Anda) kan sedikit, kok dulu sebagai orang Indonesia keturunan Tionghoa kok mau perang, kenapa?,” tanya Gubernur penasaran.

Yoewono mengungkapkan keinginannya berjuang murni atas kecintaannya terhadap tanah kelahiran. Baginya meski keturunan Tionghoa tetaplah warga negara Indonesia.

“Kita kesadaran diri, kita lahir di Indonesia, mau bagaimana ya jadi orang Indonesia. (Berjuang) Tidak ada (gaji). Kita rela mati untuk bela negara,” ucap Yoewono mantap.

Di masa tuanya, Yoewono yang terkena stroke banyak menghabiskan waktu. dengan melukis.

Seniman Dullah pelukis realis istana kesayangan Bung Karno menjadi gurunya. Di sela perbincangan, Gubernur melihat sebuah lukisan yang menyerupai dirinya namun belum selesai.

“Pak Yu, nanti kalau sudah selesai itu lukisannya kabari saya ya. Biar saya beli,” pintanya sambil berpamitan.

Yoewono tampak terharu berkali-kali mengungkapkan rasa terimakasih kepada Ganjar. “Terimakasih Pak Ganjar, sudah datang. Saya tidak pernah lupa sama Pak Gubernur,” ujarnya di akhir pertemuan.

Selain mengunjungi rumah Yoewono, pada perayaan Imlek, Gubernur juga mengunjungi warga keturunan tionghoa lainnya di Kawasan Pecinan Semarang.

Ganjar menyapa dan mengunjungi beberapa warga, salah satunya keluarga Jongkis di Jalan Sekolan, Kampung Purwodinatan.

Di rumah dua lantai berukuran 3 x 4 meter itu, Jongkis tinggal bersama 13 orang lainnya yaitu, suami, anak-anak dan cucu-cucu.

Jongkis mengaku rumahnya adalah warisan dari mertua. Ia tinggal di rumah itu sejak 1981. Jongkis mengatakan berkat kepedulian para tetangga yang memberikan tumpangan tidur bagi 7 cucunya, kesesakan di rumah Jongkis menjadi jauh berkurang.

Mendengar cerita Jongki, Gubernur bukan saja kagum pada kemampuan keluarga ini berbagi ruang tinggal, tetapi juga mengembangkan toleransi beragama.

Jongki mengaku suaminya yang keturunan Tionghoa beragama Islam. Sedangkan dua anaknya beragama Kristen dan Buddha. Sedangkan cucu-cucu Jongkis mengikuti agama orang tuanya.

“Menarik juga, di rumah ini agamanya banyak, mereka hidup rukun bersama-sama,” puji Gubernur. Meski begitu, Gubernur merasa kondisi rumah mereka perlu penataan.

“Tentu soal kelayakan harus ditata, ini kondisi yang butuh diantara kita saling peduli dan membantu,” ungkapnya.

Dari rumah Jongkis, Gubernur melanjutkan kunjungan ke rumah Keluarga Agus Sugiyanto berada di pinggir sungai di Jalan Inspeksi Wot Gandu.

Selain itu, juga mengunjungi rumah Ibu Katrin di Kampung Plampitan. Sebagai bentuk perhatian pada warga-warga kurang mampu yang dikunjungi, Gubernur juga menyerahkan bantuan sembako.

Selain mengunjungi warga keturunan Tionghoa yang kurang mampu, Gubernur meninjau pelaksanaan vaksinasi booster di halaman Kelenteng Tay Kak Sie Semarang. Penerima vaksin booster adalah jemaat atau warga Tionghoa yang biasa sembahyang di kelenteng tersebut.

“Saya terimakasih karena pelaksanaan upacaranya lancar, umat yang beribadah tertib. Mudah-mudahan doa-doa mereka terkabul. Terimakasih dari Polda dan Walubi melakukan vaksin booster. Imleknya damai, tertib dan jaga prokes,” tandasnya. (Red)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.