Perkumpulan Hwie Tiauw Ka Surabaya Peringati Tradisi Festival Dongzhi

Festival Dongzhi atau perayaan musim dingin dikenal pula dengan sembahyangan ronde merupakan tradisi penting yang diperingati masyarakat Tionghoa dan Asia Timur.

Demikian pula Perkumpulan Hwie Tiauw Ka Surabaya yang menggelar sembahyangan ronde tepat pukul 11 siang di aula kantor HTK di Jalan Slompretan no 58, pada 22 Desember 2021.

FS Jayapranata Ketua HTK mengatakan setiap tahun harus melanjutkan tradisi leluhur memperingati Festival Dongzhi atau perayaan musim dingin yang puncaknya tahun ini pada 22 Desember 2021.

Hadir pengurus maupun anggota sejumlah 40 orang mengikuti sembahyang ronde. “Saya berharap untuk generasi berikut terus meneruskan tradisi ini, tidak terputus dari kita saja,” ujarnya di sela acara.

Dalam acara tersebut, mantra dibacakan oleh Ali Santoso pakar geomancy. Seluruh pengurus dan anggota larut dan khidmat dalam acara doa. Setelah pembacaan mantra doa, pengurus membagikan nasi kotak untuk dibawa pulang.

Alie Handojo selaku Ketua Kehormatan HTK mengatakan walau masa pandemi, Perkumpulan Hwie Tiauw Ka tetap mengadakan sembahyang leluhur Dongzhi atau musim dingin.

“HTK sudah mantab hanya soal regenerasi Hakka supaya terus berkembang. Perkumpulan ini sudah berusia 202 tahun. Harus percaya diri untuk negara Indonesia dan khusus Surabaya, kita turut membangun supaya lebih maju. Menjunjung tinggi NKRI supaya Indonesia lebih kuat di Asia Tenggara. Leluhur yang datang kemari dengan harmonis, anak cucu bisa membangun negara yang kuat dan besar di Asia Tenggara ini,” tutur Alie Handojo.

mahasiswa UKWMS bersama dosen

Menariknya dalam acara itu hadir para mahasiswa Universitas Katolik Widya Mandala Prodi pendidikan Bahasa Inggris yang mendokumentasikan acara Perkumpulan HTK merayakan Festival Dongzhi.

Bernardino mengungkapkan rasa kagumnya pertama kali menginjakkan kaki di gedung HTK. “Gedung ini penuh nilai seni tinggi, berusia tua termasuk dalam heritage Kota Surabaya apalagi tempatnya strategis di Pecinan,” ujar mahasiswa semester V ini.

Bernardino berharap banyak orang bisa mengunjungi gedung HTK yang masih asli untuk melihat dan mempelajari kekayaan kebudayaan Hakka. “Hwie Tiauw Ka sebagai perkumpulan tertua di Surabaya yang sekarang menginjak rusia 202 tahun, semua orang bisa datang mempelajarinya,” tutur Bernardino didampingi dosen Hady Winarlim yang juga pengurus Muda Mudi HTK. (Aira)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.