Dusdukduk dari Tugas Kuliah di ITS Hingga Raih Penghargaan Forbes

Lewat material kardus bekas, Muhammad Arif Susanto berhasil dinobatkan sebagai salah satu tokoh Forbes 30 Under 30. Arif co-founder dari Dusdukduk brand furnitur dan dekorasi yang meraih banyak penghargaan inovasi produk ramah lingkungan. Dusduduk merupakan akronim dari kardus tempat duduk.

Arif menceritakan awal lahirnya Dusdukduk, dari pembuatan satu set meja kursi kardus dari tugas mata kuliah Desain Produk Industri (Despro) ITS, kemudian diikutkan pameran tugas kampus.

Alumnus angkatan 2010 ini memaparkan, ia beserta tim sejak awal berniat membawa hasil karyanya menjadi wirausaha yang berprofit. Dikembangkanlah Dusduduk hingga meraih banyak penghargaan.

Mulai dari finalis Wirausaha Muda Mandiri hingga meraih Best Booth pada pameran CASA Indonesia. Dusdukduk banyak menghiasi pameran dari tingkat regional hingga internasional. Bahkan kini, Dusdukduk dipercaya banyak brand ternama seperti Honda dan H&M.

Dari tujuh tahun lebih kiprahnya, sosok wirausahawan muda ini berhasil mendirikan PT Kreasi Karya Raya bersama timnya. Dusdukduk yang semula berfokus pada produk meja dan kursi, kini sudah melakukan diversifikasi produk.

Hingga 2021, sudah terdapat dua anak perusahaan yaitu Totoys.id yang memproduksi mainan anak-anak dan Packimpact yang berfokus pada kemasan produk yang keseluruhannya berbahan dasar kardus bekas. Selain kedua produk baru ini, Dusdukduk juga menerima pesanan sesuai permintaan.

Meskipun telah meraih banyak prestasi, lelaki yang kini menjadi dosen di Universitas Ciputra, Surabaya ini tak pernah sedikitpun terpikirkan dapat menjadi salah satu tokoh Forbes 30 Under 30. Menurutnya, predikat tersebut sangatlah sulit dicapai karena ada banyak tokoh-tokoh muda inspiratif di Indonesia.

Arif sempat menganggap e-mail dari Forbes sebagai spam atau penipuan. “Saya pikir itu hanya e-mail spam atau tidak asli sampai saat itu saya mendapat telepon langsung dari pihak Forbes,” ungkapnya sambil tersenyum bahagia.

Lelaki yang gemar membaca buku pengembangan diri ini memaknai pencapaiannya sebagai bonus dari konsistensi dirinya beserta tim dalam mengembangkan Dusdukduk.

Penghargaannya sebagai barometer bahwa usaha yang dirintis dari ilmu di bangku perkuliahan dapat melahirkan produk-produk yang bersaing dan diminati masyarakat. Hal tersebut pula yang selalu ia tanamkan pada anak-anak muda untuk berani bermimpi dan think big.

Setelah dinobatkan sebagai tokoh Forbes 30 Under 30 pada awal tahun 2020 lalu, Arif dan tim Dusdukduk dihadapkan dengan tantangan pandemi Covid-19. Sejak 2013 hingga 2020 awal. Omzet Dusdukduk yang selalu naik harus menurun akibat pandemi. Namun menurutnya, pandemi bukan akhir dari segalanya.

Duta Earth Hour Surabaya 2018 ini melihat pada masa pandemi, ada kecenderungan masyarakat memulai usaha dan membutuhkan kemasan untuk produknya. Instingnya langsung berpikir untuk merilis Packimpact sebagai jawaban dari kebutuhan masyarakat.

Selain menggencarkan pada diversifikasi produk, Dusdukduk juga mengoptimalkan media digital untuk pemasaran dengan media sosial.

Arif mengungkapkan Dusdukduk ke depannya akan memanfaatkan media sosial untuk mengunggah konten-konten kreatif guna mengembangkan produk.

Hal ini didasari durasi masyarakat berada di media sosial yang meningkat signifikan selama pandemi. “Bukan tak mungkin bahwa dalam waktu dekat Dusdukduk menggarap konten video kreatif di YouTube atau platform lainnya,” bebernya.

Pegiat usaha ramah lingkungan ini mengaku akan terus menunjukkan gebrakan baru. Salah satu di antaranya adalah perilisan anak perusahaan baru dengan jenis produk baru pada 2021 ini.

Arif menyampaikan untuk terus menantikan kreasinya terutama ide 15 anak perusahaan yang sudah dirancangnya sejak 2019 lalu.

Editor: Aira

About the Author

Berita7.Online
Independen Terpercaya

Be the first to comment on "Dusdukduk dari Tugas Kuliah di ITS Hingga Raih Penghargaan Forbes"

Tinggalkan komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*


Translate »